Konsep sekolah unggulan salah sasaran

Oleh: Dwi Wahyuni

SURABAYA (Bisnis.com): Konsep sekolah unggulan yang diterapkan sejumlah pengelola pendidikan negeri maupun swasta di Indonesia dinilai salah sasaran karena tidak dapat menghasilkan kecerdasan watak dan moral anak didik.

“Saya orang paling tidak setuju dengan konsep sekolah unggulan karena ternyata persepsinya di Indonesia tidak tepat,” ujar pakar pendidikan nasional yang juga guru besar Universitas Negeri Jakarta Arief Rachman pada talk show puncak acara satu hati cerdaskan bangsa 2008 di Surabaya, hari ini.

Menurut dia, yang terjadi pada sekolah unggulan baik di sekolah negeri maupun swasta hanya dapat menghasilkan siswa pintar dan pengelompokan anak-anak orang kaya. Pasalnya, hampir semua sekolah unggulan memungut biaya relatif mahal. Sementara tolok ukurnya hanya terbatas pada kecedasan bidang studi seperti matematika, fisika, ekonomi dan sebagainya. Itu sebabnya banyak sekolah yang begitu bangga jika anak didiknya dapat meraih juara olimpiade fisika atau matematika.

Sekolah unggulan di Indoensia, tegasnya, hanya dimaknai unggul dalam kecerdasan intelektual (otak) dan menelantarkan keunggulan dalam bidang watak. “Seharusnya sekolah unggulan itu mengajarkan lima kecerdasan yakni spiritual untuk membentuk moral, emosional agar mereka memiliki perasaan yang halus dan santun, intelektual menguasai pelajaran, sosial atau bisa berkomunikasi baik dengan lingkungan serta kecerdasan jasmani yang terkait sikap,” paparnya.

Tidak kalah penting, katanya, mesti ada keseimbangan populasi antara jumlah siswa dari kalangan masyarakat yang kaya, sampai yang miskin di sekolah bersangkutan. Namun, yang terjadi sekarang, akibat banyakan sekolah unggulan yang hanya mengutamakan kecerdasan banyak anak-anak yang memiliki wawasan global tetapi rasa nasionalismenya kurang.(yn)

sumber: http://web.bisnis.com/umum/pendidikan/1id75075.html

BENARKAH ADA SEKOLAH UNGGULAN?; Sebuah Penelitian

PROLOG

Berkenaan dengan paparan konsep sekolah efektif sebagai alat analisa sekolah unggulan yang menjadi tema makalah ini, berikut ini akan dipaparkan definisi, perkembangan, karakteristik, dan pengukuran efektitas sekolah. Referensi utama pembahasan ini berbasis pada internet resources yang sengaja dipilih untuk dapat melihat peta diskusi dan perkembangan mutakhir wacana sekolah efektif tersebut, di samping alasan praktis pragmatis sebagai bentuk pemanfaatan ICT (Information and Technology Information) dalam riset pendidikan.

1. SEKOLAH UNGGULAN = SEKOLAH EFEKTIF?

Sebagai telah diperkenalkan di awal makalah ini bahwa term sekolah unggulan adalah “terjemah bebas” dari effective school. Dalam diskursus ilmu pendidikan, esensi sekolah unggulan merujuk kepada term effective, efficience, develop, accelerate, essential dan high performance school.[1] Sedangkan excellent school yang sepadan dengan sekolah unggulan sangat jarang digunakan. Poster misalnya, meskipun memberikan judul Creating an Excellent School untuk bukunya, namun dalam content nya sendiri selalu merujuk pada Effective School. Dalam pada itu, maka penulis lebih memilih effective school sebagai pijakan terminologi sekolah unggulan. Namun demikian, pemadanan term sekolah unggulan dengan efficience school dan excellent school memiliki dimensinya tersendiri yang juga patut dikaji.

Gagasan sekolah efektif dipopulerkan oleh Ronald Edmonds[2]. Edmonds mengusung tesis bahwa sifat sekolah merupakan faktor penentu yang penting terhadap prestasi akademik. Kesimpulan Edmonds ini adalah antitesis terhadap Coleman yang meragukan kemampuan sekolah dalam mencerdaskan anak didik.[3] Merujuk pada penelitian Edmonds sekolah efektif dirumuskan sebagai sekolah yang mengorganisasikan dan memanfaatkan semua sumber daya yang dimilikinya untuk menjamin semua siswa bisa mempelajari materi kurikulum yang esensial di sekolah.[4] Relevan dengan itu Barbara O Taylor mendefinisikan sekolah efektif sebagai sekolah yang berakar pada tiga asumsi dasar yaitu semua siswa dapat belajar, memiliki fokus terhadap pembangunan organisasi sekolah sebagai unit perubahan, dan semua proses tersebut didorong oleh manajemen berbasis sekolah.[5] Sementara Cyril Poster menambahkan satu syarat utama sekolah efektif yaitu target dan tujuan yang jelas yang hendak dicapai sekolah. Menurutnya sebuah sekolah efektif tidak harus unggul dalam pengertian menjadi yang terbaik di antara sesamanya. Tetapi yang terpenting adalah mempunyai tujuan dan target untuk dicapai.[6]

Substansi yang dapat disimpulkan sebagai pengertian sekolah efektif dari paparan terdahulu adalah sekolah yang mampu merumuskan tujuan dan misinya dengan baik dan mengupayakan ketercapaiannya dengan memberdayakan seluruh komponen sekolah sejak input, proses, sampai out put secara optimal. Kondisi seperti ini lah yang memungkin seluruh siswa dapat benar-benar belajar dan melejitkan potensi dirinya. Tanpa harus mengunggulkan dirinya dengan melabeli diri sebagai sekolah unggulan, sekolah efektif adalah sekolah yang eksis dan survive di tengah persaingan global dewasa ini.

Terkait dengan itu, keunggulan, yang disematkan kepada sekolah-sekolah tertentu di Indonesia masih memicu kontroversi di kalangan akademisi. Unggul berarti lebih baik dari yang lain. Unggul juga menunjukkan adanya puncak-puncak prestasi yang hanya bisa dicapai oleh orang yang paling kompeten. Unggul juga merujuk pada kriteria dan urutan peringkat dalam skala yang ditentukan suatu pihak yang belum tentu diterima dengan senang hati dan disepakati. Patut dikritisi, ketika berbicara sekolah unggulan, unggul dalam hal apa? Tiap sekolah sebenarnya terlihat unggul dalam beberapa hal dan tidak pada beberapa hal lainnya. Lebih lanjut, patut dikritisi juga, siapa yang mendefinisikan keunggulan dalam konteks ini? Agenda siapa yang dilayani? Perangkat apa yang dipergunakan untuk mempertimbangkan cakupan keunggulan itu?[7]

Depdiknas sendiri sebagai isntitusi yang paling kompeten dalam menangani masalah pendidikan di Indonesia belum mengumumkan adanya sekolah unggulan. Yang dilakukan Depdiknas lebih pada memetakan peringkat sekolah melalui hasil Ujian Nasional dan pengelompokkan sekolah ke dalam Sekolah Standara Nasional (SSN) dan Sekolah Standar Internasional (SSI).[8] Pun demikian, ketika status sekolah unggulan ini dikonfirmasikan kepada SMA Al-Ma’soem, sangat terbaca dengan jelas keengganan SMA Al-Ma’soem melabeli dirinya dengan sekolah unggulan. Bagi SMA Al-Ma’soem, status unggulan adalah labeling yang diberikan masyarakat terhadap kinerjanya. Unggul atau tidaknya SMA Al-Ma’soem masyarakat yang akan menilai. SMA Al-Ma’soem hanya berkomitmen mewujudkan sekolah yang berkualitas dan memberikan layanan yang terbaik.[9] Komitmen menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas di SMA Al-Ma’soem juga ditegaskan dalam latar belakang pendiriannya.[10]

Refleksi dari perdebatan semantik penggunaan term sekolah unggulan dan kecenderungan SMA Al-Ma’soem untuk menghindarinya adalah pentingnya merumuskan tujuan yang menjadi pijakan bagi semua tahapan berikutnya. Tidak jarang ditemukan sekolah yang masih bingung merumuskan dan mengomunikasikannya. Poster misalnya, menyampaikan kritik bahwa tujuan sekolah sering terlihat hambar, tidak menarik, verbalistik, serta jarang memiliki arah ungkapan yang memiliki arah ungkapan yang dapat mengilhami usaha atau kejutan besar.[11] Tujuan juga sering dianggap enteng dan sepele. Kemampuan merumuskan tujuan dengan baik juga mengisyaratkan kemandirian sekolah. Hanya sekolah yang benar-benar otonom yang mampu mengekspresikan kemauan dirinya. Berdasarkan ini maka pembicaraan sekolah efektif akan selalu terkait dengan aplikasi Manajemen Berbasis Sekolah.


[1] Lihat ERIC (Education Resources Information Center), abstract of School Based Manajemen:Organizing for High Performance, author Susan Albers Mohrman, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://eric.ed.gov/ERICWebPortal/Home.portal?_nfpb=true&ERICExtSearch_SearchValue_0=School+Based+Management%3A+Organizing+for+High+Performance&searchtype=basic&ERICExtSearch_SearchType_0=ti&_pageLabel=RecordDetails&objectId=0900019b800a433a&accno=ED383075&_nfls=false

[2] Ronald Edmond adalah Direktur pada The Center for Urban Studies Harvard University. Lihat Association of Effective Schools.Inc, What is Effective School Risearch, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://www.mes.org/esr.html

[3] Lihat Cyril Poster, Creating an Effective School, h. 1 dan 11

[4] Lihat Association of Effective Schools.Inc, Correlate of Effective School, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://www.mes.org/esr.html

[5] Lihat Barbara O Taylor, Case Studies in Effective School Research,(Madison: Winconsin Center for Education Research) h. 10

[6] Lihat Cyril Poster, Creating an Excellent School, h. 213

[7] Terkait dengan pijakan terminologi sekolah unggulan ini, Nurkhalis memberikan kritik bahwa sebutan sekolah unggulan itu sendiri kurang tepat. Kata “unggul” menyiratkan adanya superioritas dibanding dengan yang lain. Kata ini menunjukkan adanya “kesombongan” intelektual yang sengaja ditanamkan di lingkungan sekolah. Lihat Nurkhalis, Sekolah Unggulan Yang Tidak Unggul, artikel diunduh tanggal 30 Mei 2008 dari http://re-searchengines.com/nurkolis3.html (kumpulan artikel dalam situs resmi Pendidikan Network).

[8] Lihat Republika, Mencari Sekolah Terbaik, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://http//www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=320052&kat_id=506

[9] Disarikan dari hasil wawacara dengan Sumartono, PKS Kurikulum SMA Al-Ma’soem pada tanggal 8 Mei 2008

[10] Lihat, Yayasan Pendidikan Al-Ma’soem, Setahun Bersama Al-Ma’soem, (Bandung: Yayasan Pendidikan Al-Ma’soem, 2007) h. 1

[11] Lihat, Cyril Poster, h. 216

sumber: http://lpmpalmuhajirin.blogspot.com/2009/04/benarkah-ada-sekolah-unggulan.html

Membandingkan Beberapa Konsep dan Kebijakan Pendidikan

Oleh : Suparlan *)

Dalam penyelenggaraan pendidikan nasional masa depan, perhatian perbaikan sistem pendidikan nasional ditujukan pada aspek-aspek kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, tenaga kependidikan, manajemen pendidikan dan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.
(Indra Djati Sidi)

Kutipan tersebut diambil dari buku bertajuk ‘Menuju Masyarakat Belajar, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan’, yang ditulis oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Bapak Indra Djati Sidi. Tulisan itu mengingatkan tentang pentingnya komponen-komponen dalam sistem pendidikan nasional. Tegasnya, komponen-komponen penting itu merupakan masukan instrumental (instrumental input) yang ikut mempengaruhi kualitas keluaran pendidikan yang dihasilkan. Selain itu, peserta didik dikenal dengan masukan kasar (raw input), yang juga sama-sama ikut menentukan keberhasilan pendidikan. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional ditegaskan dengan jelas bahwa ‘Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen yang saling terkaitsecara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional’. Dalam UU sebelumnya, UU Nomor 2 Tahun 1989, malah dengan tegas pula dinyatakan bahwa peserta didik, guru, dan kurikulum merupakan tiga komponen utama dalam sistem pendidikan nasional.

Tulisan singkat ini mencoba untuk membandingkan tentang konsep dan kebijakan pendidikan di Indonesia dan Malaysia. Konsep dan kebijakan itu lahir dari proses kronstruksi dan rekonstruksi komponen-komponen pendidikan, baik masukan kasar (raw input), masukan instrumental (instrumental input), dan masukan lingkungannya (environmental input). Konsep dan kebijakan pendidikan merupakan satu strategi untuk mencapai tujuan pendidikan. Konsep dan kebijakan itu dilaksanakan di lapangan dalam bentuk program dan kegiatan. Kebijakan pendidikan pada hakikatnya merupakan keputusan-keputusan formal-institusional dalam bidang pendidikan. Keputusan-keputusan itu memang dirumuskan secara bersama, dan oleh karena itu menjadi konsesus dan komitmen bersama untuk dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. Dalam hal ini, Malaysia telah memiliki standar prosedur operasional baku dalam merancang konsep dan kebijakan pendidikannya. Sebagai contoh, Akta Pendidikan (UU Sistem Pendidikan Nasional) melalui proses perubahan dengan melalui proses evaluasi secara mendalam. Hasil evaluasi itu dilaporkan oleh Menteri Pendidikan dalam sidang kabinet, dan akhirnya disusunlah Akta Pendidikan yang baru berdasarkan hasil evaluasi tersebut. Dalam rangka menyongsong abad ke-21, Malaysia telah memiliki Akta Pendidikan 1996 (Akta 550). Sementara Indonesia baru setahun memiliki undang-undang yang baru tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni UU Nomor 20 tahun 2003.

Sebagai bahan pelajaran (lesson learned) berikut ini akan dibandingkan beberapa konsep dan kebijakan pendidikan di Indonesia Malaysia. Konsep dan kebijakan yang akan dibandingkan adalah yang sepadan atau yang substansinya sama atau hampir sama.

Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pendidikan ‘Percuma’ (Gratis)

Wajib belajar di Indonesia dimulai sejak adanya Wajib Belajar Sekolah Dasar 6 Tahun, yang mulai dicanangkan bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 1984. Keberhasilan program ini kemudian dilanjutkan dengan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun yang dicanangkan juga bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 1994. Konsep wajib belajar di Indonesia memang tidak identik dengan ‘compulsory education‘ yang berbau paksaan dan diikuti dengan sanksi yang tegas, tetapi lebih ke arah sebagai ‘universal basic education’, yang bersifat arahan dan himbauan, dengan sanksi sosial. Keberhasilan pelaksanaan program Wajib Belajar Sekolah Dasar 6 Tahun tersebut memang telah berhasil secara kuantitatif, karena 93% anak usia sekolah dasar telah dapat ditampung dalam SD-SD Inpres yang tersebar ke seluruh pelosok tanah air. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa keberhasilan dalam perluasan kesempatan belajar itu tidak diikuti oleh keberhasilan secara kualitatif. Banyak gedung SD yang kini menjadi kosong karena dibangun di lokasi yang tidak tepat. Bahkan kini banyak gedung-gedung itu yang kini telah mengalami rusak berat, karena dibangun dengan kualitas yang rendah. Wal hasil, pembangunan pendidikan yang dilaksanakan selama ini kurang berorientasi kepada mutu pendidikan.

Pendidikan gratis terutama diberlakukan untuk satuan pendidikan Sekolah Rendah (SR) mulai dari ‘Darjah Satu sampai dengan Darjah Enam’ atau kelas satu sampai dengan kelas enam di Sekolah Rendah. Sistem persekolahan di Malaysia menganut umur, artinya jika anak berumur tujuh tahun maka ia berhak menduduki darjah satu Sekolah Rendah, dan demikian seterusnya. Dalam hal kenaikan kelas, Malaysia menganut sistem automatic promotion atau kenaikan kelas otomatis. Oleh karena itu, tidak ada siswa yang tidak naik kelas. Berkat kebijakan inilah maka meski secara resmi Malaysia tidak memiliki program wajib belajar, sebagaian besar anak usia sekolah di Malaysia telah memperoleh kesempatan belajar. Untuk memudahkan dalam pengelolaan kelas (classroom management), guru membagi kelas menjadi tiga kelompok berdasarkan kecepatan dalam menerima pelajaran, yakni kelompok yang cepat, sedang, dan lambat. Walhasil, meski di Malaysia tidak pencanangan program wajib belajar sebagaimana yang dilaksanakan di Indonesia, namun dengan program pemerataan pendidikan di Malaysia juga telah berhasil dengan kualitas yang memadai.

Kenaikan Kelas Ekspres dan Program Percepatan (Accelerated Learning)

Jika di Indonesia telah mencoba konsep percepatan belajar atau accelerated learning, maka Malaysia sejak lama telah melaksanakan konsep yang disebut kenaikan kelas ekspres. Kenaikan kelas ekspres ini justru diberlakukan pada ‘darjah tiga’ atau kelas tiga dapat naik ke kelas lima, setelah melalui tes yang diselenggarakan Lembaga Peperiksaan Malaysia. Selain itu, ketentuan lain yang secara tegas dilaksanakan adalah adanya persetujuan dari orangtua siswanya. Apabila orangtuanya tidak setuju, anak tersebut dapat mengikuti proses kenaikan biasa. Persetujuan orangtua ini amat penting karena orantua harus ikut bertanggung jawab terhadap implikasi yang ditimbulkan dari kebijakan kenaikan kelas ekspres tersebut.

Dalam hal kebijakan ‘accelerated learning’ di Indonesia, Prof. Dr. Suyanto, M.Ed, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, justru tidak setuju dengan pelaksanaan accelerated learning pada jenjang pendidikan dasar, utamanya di SD. Pertimbangannya, sudah tentu dari faktor psikologis dan edukatif, yakni ‘siswa SD akan kehilangan waktu bermain’ (Republika, 12 Maret 2004). Dalam hal pemberlakukan program akselarasi di SMA pun, Rektor UNY juga tidak setuju jika dilaksanakan dengan kelas khusus. Alasannya karena cara tersebut merupakan satu bentuk diskriminasi bagi siswa. Cara yang paling elegan menurut beliau adalah dengan sistem kredit semester (SKS).
Dengan belajar dari Malaysia tentang kenaikan kelas ekspres, perbedaan pandangan tentang kebijakan program akselarasi di Indonesia harus disatukan dalam bentuk penyusunan konsep yang dirumuskan oleh satu Pokja yang dibentuk oleh Mendiknas yang anggotanya terdiri atas berbagai pakar pendidikan. Hasil kerja pokja masih perlu disosialisasikan kepada masyarakat, dan setelah itu akan menjadi pedoman baku yang akan menjadi acuan para petugas dalam pelaksanaan kebijakan tersebut secara konsisten dan konsekuen. Dengan program kenaikan kelas ekspres atau pun melalui program percepatan tersebut, pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak peserta didik agar ‘mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya’ (Pasal 12 UU Nomor 20 Thun 2003).

Sekolah Unggulan dan Sekolah Berasrama Penuh (SBP)

Indonesia memiliki konsep sekolah unggulan. Yang kini masih cukup terkenal adalah SMA Taruna Nusantara yang dikembangkan dengan disiplin ketat ala militer. Beberapa daerah provinsi dan bahkan kabupaten/kota ada yang telah menggagas adanya sekolah unggulan, baik dalam bentuk kelas unggulan atau sekolah unggulan, baik sekolah negeri maupun swasta, seperti SMA Soposurung di Sumatera Utara, SMA Al Azhar di Jakarta, Madrasah Aliyah Insan Cendekia, dan masih banyak yang lainnya. Di sekolah-sekolah unggulan tersebut biasanya telah dilengkapi dengan sarana asrama untuk peserta didik. Beberapa sekolah swasta unggulan tersebut juga memiliki sarana asrama bagi peserta didik. Sekolah-sekolah seperti itu menyebut dirinya sebagai ‘boarding shool‘. Kecuali SMA Taruna Nusantara, sekolah-sekolah unggulan tersebut masih terbatas untuk peserta didik dari daerah provinsi atau kabupaten/kotanya. Jadi, sekolah unggulan ini tidak dirancang untuk menampung peserta didik yang terbaik dari seluruh daerah. Dengan kata lain, sekolah unggulan tersebut kurang dirancang untuk tujuan membangun semangat persatuan dan kesatuan di kalangan anak-anak bangsa dari seluruh pelosok Nusantara. Tujuan utama pembangunan sekolah unggulan tersebut biasanya terkait dengan upaya agar anak-anak dari daerah yang bersangkutan dalam diterima di perguruan tinggi yang berkualitas.

Konsep sekolah unggulan di Indoensia itu berbeda dengan konsep Sekolah Berasrama Penuh (SBP) di Malaysia. Dua dari sepuluh tujuan pembangunan sekolah berasrama penuh (SBP) di Malaysia ada dua tujuan SPB yang amat penting untuk dijadikan bahan pelajaran, yaitu ‘mewujudkan peluang untuk pelajar-pelajar yang berpotensi terutama dari kawasan luar bandar (kota, penulis) bagi mendapatkanpendidikan dengan kemudahan yang teratur, sempurna dan terkini dalam iklim persekolahan yang kondusif’, dan ‘memperbanyakkan pelajar bumiputera mendapat pendidikan berkualiti sebagai persediaan ke arah pendidikan tinggi untuk memenuhi keperluan negara’. Untuk Indonesia, ketentuan tentang ‘pelajar bumi putera’ memang tidak popular, karena mengandung nuansa SARA. Namun di Malaysia, ketentuan itu justru harus muncul dalam bentuk ketentuan formal, karena ketentuan formal itulah yang akan menjadikan pihak lain dapat memahaminya secara terbuka, tanpa ada kecurigaan. Transparansi justru amat diperlukan dalam sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Malaysia, untuk menghindari adanya kecurigaan antarkaum.

Proses seleksi untuk menjadi siswa di SBP dilakukan langsung oleh Kementerian Pendidikan, dan penempatannya pun ditetapkan oleh kementerian pendidikan. Aspek penting lain yang diharapkan pemeritah melalui SBP ini adalah terbentuknya rasa persatuan dan kesatuan antara sesama warga Malaysia (perpaduan). Peserta didik di SBP berasal dari anak-anak yang terpilih dari berbagai negara bagian di Malaysia.

Para siswa yang bersekolah di sini memang diasramakan. Biaya pendidikan dan asrama bagi seluruh siswanya sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Namun demikian, orangtua dapat memberikan sedikit uang saku kepada anaknya. Kini Malaysia memiliki 30 (tiga puluh) Sekolah Berasrama Penuh, yang tersebar di seluruh negeri di Malaysia. Anwar Ibrahim tercatat sebagai salah seorang lulusan Kolej Melayu Kuala Kangsar (KMKK). KMKK berdiri sejak tahun 1905 yang mengikuti azas sekolah berasrama penuh. Sekolah Seri Puteri (SSP) merupakan salah satu SBP yang terletak di kota Kuala Lumpur, yang semua muridnya adalah perempuan.

Ujian Akhir Nasional dan Peperiksaan

Konsep dan kebijakan tentang ujian di Indonesia telah mengalami perjalanan yang cukup panjang. Pada tahun-tahun awal kemerdekaan sampai sekitar tahun 70-an, Indonesia menggunakan konsep ujian negara. Kira-kira pada tahun 80-an, diubahlah menjadi ujian sekolah. Dan kira-kira pada tahun 90-an, konsep ujian negara dan ujian sekolah digabungkan menjadi Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Terakhir, kebijakan itu menjadi Ujian Akhir Sekolah (UAS) untuk SD, dan Ujian Akhir Nasional (UAN) untuk SMP, SMA, SMK, dan atau yang sederajat. Apabila dibandingkan dengan sistem ujian akhir di Malaysia, yang paling mengganjal adalah tidak berlakunya hasil UAN SMA dan SMK untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Pihak perguruan tinggi secara sepihak menyatakan bahwa UAN dan UMB berbeda secara substansial, dan oleh karena itu, UMB tidak dapat menggunakan hasil UAN.

Hal ini tidak berlaku di Malaysia. Konsep dan kebijakan tentang ujian akhir di Malaysia tampak matang dan dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. Oleh karena itu, konsep dan kebijakan ini dapat menjadi bahan pelajaran yang amat penting bagi Indonesia. Dirjen Dikdasmen, baik sewaktu dijabat oleh Bapak Achmady maupun Bapak Indra Djati Sidi, telah pernah secara langsung mengadakan kunjungan ke Malaysia untuk melihat secara langsung pelaksanaan konsep dan kebijakan ini. Bahkan kalau tidak salah Bapak Dirjen pernah melihat langsung adanya almari besi tempat menyimpan soal-soal yang akan digunakan di sekolah. Alat ini menjadi amat penting pada saat itu, karena adanya kebocoran soal Ebtanas, meski soal Ebtanas pada waktu itu telah dibuat dengan lima paket yang berbeda-beda untuk daerah atau sekolah satu dengan daerah lainnya.

Di Malaysia dikenal adanya nama ujian akhir yang berbeda-beda untuk masing-masing jenjang pendidikan. UPSR (Ujian Pencapaian Sekolah Rendah) adalah nama ujian akhir untuk sekolah rendah. PMR (Penilaian Menengah Rendah) adalah nama ujian akhir untuk sekolah menengah rendah. Dan SPM (Sijil Pelajaran Malaysia) adalah nama ujian akhir untuk sekolah menengah tingkat atas. Sistem sekolah menengah atas di Malaysia adalah dua tahun selepas sekolah menengah rendah, yakni tingkatan satu, tingkatan dua, tingkatan tiga di sekolah menengah rendah, dan dilanjurkan dengan tingkatan empat dan tingkatan lima di sekolah menengah atas. Jadi siswa sekolah menengah atas di Malaysia hanya dua tahun, yakni di tingkatan empat dan tingkatan lima (atau kelas satu dan kelas II SMA di Indonesia). Hanya saja, pada tahun pertama masuk ke perguruan tinggi, calon mahasiswa di perguruan tinggi perlu mengikuti program matrikulasi di perguruan tinggi yang bersangkutan.

Salah satu kebijakan yang patut menjadi bahan pelajaran bagi Indonesia adalah tentang pengakuan perguruan tinggi terhadap hasil ujian akhir di Malaysia. Untuk masuk ke perguruan tinggi di Malaysia, calon mahasiswa tidak lagi harus repot-repot mengikuti tes masuk ke perguruan tinggi. Hasil ujian akhir di Malaysia digunakan sekaligus untuk penilaian masuk ke perguruan tinggi. Untuk itu calon mahasiswa yang telah lulus mengikuti SPM tinggal mengirimkan hasil ujiannya secara langsung atau melalui pos kepada Unit Pusat Universiti (UPU) yang akan mematur penempatan para calon mahasiswa tersebut di universitas-universitas di Malaysia. UPU adalah satu organisasi di dalam Bahagian Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Malaysia.

Perguruan tinggi di Indonesia mempunyai alasan tersendiri untuk tidak menggunakan hasil UAN bagi kemasukan ke perguruan tinggi, antara lain karena hasil UAN masih dapat dimanipulasi. Selain itu, konon antara ujian akhir dan ujian masuk ke perguruan tinggi memiliki perbedaan yang amat mencolok dalam azas maupun tujuannya. Namun, demikian, tidakkah dalam satu Departemen hal semacam itu tidak dapat dikompromikan secara bijak?

Sekolah Berwawasan Khusus Teknologi Informasi dan Sekolah Bestari (Smart School)

Direktorat Pendidikan Menengah Umum telah mengembangkan konsep sekolah berwawasan khusus. Ada SMA berbawasan bahasa, ada yang kesenian dan olah raga, ada yang sains dan matematika, dan ada pula yang berwawasan teknologi informasi. Apabila benar-benar konsep ini akan diterapkan dengan ketentuan bahwa setiap SMA harus memilih salah satu wawasan tertebut, maka betapa banyak macam SMA yang diperlukan oleh masing-masing kabupaten/kota. Karena kini sekolah menjadi kewenangan kabupaten/kota. Dalam hal ini, dinas pendidikan provinsi dapat berperan untuk menjembatani dalam pengaturan bidang atau wawasan yang perlu diprioritaskan untuk masing-masing kabupaten/kota. Khusus dalam bidang teknologi informasi, di setiap daerah kabupaten/kota sudah saatnya memiliki sekolah yang berwawasan teknologi informasi tersebut.

Konsep Sekolah Bestari baru dilahirkan sejak tahun 1997, bertepatan dengan adanya krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Konsep ini disusun oleh satu ‘Pasukan Petugas Smart School’ Kementerian Pendidikan Malaysia pada tahun 1997, sebagai bagian dari grand design megaproyek MSC (Multimedia Super Corridor), yakni pembangunan kawasan industri komputer antara Putra Jaya sampai dengan Kuala Lumpur. Gagasan besar ini barangkali diilhami oleh proyek yang dikenal dengan Silicon Valley di Amerika Serikat. Bukankah bendera Malaysia juga diilhami oleh bendera Amerika Serikat yang dikenal dengan stripes and stars-nya?

Konsep dan kebijakan sekolah bestari merupakan salah satu bidang dari tujuh bidang yang dikembangkan dalam megaproyek MSC. Sistem pembelajaran dalam sekolah bestari ini sepenuhnya menggunakan multimedia. Empat mata pelajaran penting, yakni Bahasa Malaysia, Bahasa Inggris, Sains, dan Matematika telah dibuatkan CD ROM-nya, yang dapat diakses dengan menggunakan komputer oleh siswa dan gurunya. Salah satu sekolah bestari yang terkenal di Malaysia adalah Sekolah Menengah Putra Jaya I yang berlokasi di kawasan ibukota pemerintahan Putra Jaya. Mantan Mendiknas Bapak Yahya Muhaimin pernah mengunjungi Sekolah Menengan Putra Jaya I ini, dan sempat menyampaikan pidato dan kunjungan ke kelas-kelas di sekolah ini.

Untuk menunjang pelaksanaan konsep dan kebijakan sekolah bestari, konon pemerintah Malaysia memberlakukan diskon bagi para guru yang membeli computer. Selain itu, pemerintah Malaysia juga menerapkan adanya beberapa kebijakan pendukung, misalnya dengan program internet keliling. Pada jenjang pendidikan tinggi, Telekom Malaysia juga telah mendirikan Universiti Multi Media di kawasan Putra Jaya, yang kini mahasiswanya berasal dari tiga puluh negara asing. Untuk mendukung pelaksanaan program educational excellence (unggulan dalam bidang pendidikan) di kawasan Asia Pasifik, Jabatan Imigrasi Malaysia (JIM) juga telah mengeluarkan ketentuan untuk mempermudah dalam mengurus visa bagi mahasiswa yang akan belajar di Malaysia.

Akhir Kata

Sebenarnya masih ada beberapa konsep dan kebijakan pendidikan di Indonesia dan Malaysia yang cukup penting dan dapat dijadikan bahan perbandingan dan pelajaran bagi Indonesia, misalnya konsep dan kebijakan tentang kurikulum. Konsep dan kebijakan tersebut akan dicoba diulas dalam tulisan yang akan datang. Sudah barang tentu, tidak semua konsep dan kebijakan pendidikan di Malaysia cocok dan kompatibel dengan Indonesia. Namun demikian, sebagai bahan pelajaran, ada baiknya kita mencoba membandingkan dengan konsep dan kebijakan milik bangsa sendiri. Siapa tahu, beberapa konsep dan kebijakan pendidikan di Malaysia itu memang jauh lebih baik, dan dengan demikian, setidaknya dapat dijadikan bahan pelajaran yang berharga bagi Indoensia. Wallau alam.

*) Kepala Bidang Pelayanan Teknis PPPG Matematika Yogyakarta, mantan Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. E-mail: bsuparlan@yahoo.com. Website: http://www.suparlan.com.

Yogyakarta, 15 Maret 2004

Sumber: http://www.suparlan.com/pages/posts/membandingkan-beberapa-konsep-dan-kebijakan-pendidikan33.php

Sekolah Unggulan

Oleh: Muhamad Ikhsan

Sudah kita ketahui bersama, kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) kita dibandingkan negara-negara di Asia selalu terdepan -dalam ketertinggalan-. Segala daya dan upaya dilaksanakan oleh masyarakat -entah kalau pemerintah- dalam meningkatkan SDM kita terutama pada sektor pendidikan.

Peningkatan mutu SDM dituangkan dalam bentuk pendirian sekolah-sekolah unggulan di beberapa wilayah. Beberapa contoh sekolah unggulan yang sudah ada seperti di Magelang dan Tarutung, Sumatera Utara mampu menghasilkan lulusan dengan prestasi akademik yang tinggi.

Namun dalam pelaksanaannya, sebenarnya sekolah-sekolah tersebut hanya menerima input siswa yang sudah berprestasi (baca: memiliki NEM yang tinggi). Jadi sesungguhnya hanyalah sekolah dengan kumpulan anak-anak cerdas sehingga dengan memilih input yang baik otomatis hasil outputnya pun akan baik.

Sehingga beberapa pakar pendidikan mempertanyakan definisi dari Sekolah Unggulan sehingga memunculkan konsep pengertian sekolah unggulan.

Tipe Sekolah Unggulan

Tipe 1
Tipe ini seperti yang diuraikan di atas, dimana sekolah menerima dan menyeleksi secara ketat siswa yang masuk dengan kriteria memiliki prestasi akademik yang tinggi. Meskipun proses belajar-mengajar sekolah tersebut tidak luar biasa bahkan cenderung ortodok, namun dipastikan karena memilih input yang unggul, output yang dihasilkan juga unggul.

Tipe 2
Sekolah dengan menawarkan fasilitas yang serba mewah, yang ditebus dengan SPP yang sangat tinggi. Konon, untuk sekolah dasar unggulan di Parung, Bogor uang pangkalnya saja bisa sekitar lebih dari 7 juta. Mahal? Nggak juga tuh, buktinya banyak orang-orang Indonesia yang sekolah di sana. Tidak mahal menurut mereka dibandingkan biaya sekolah di luar negeri, dan memang sekolah ini dibangun untuk membendung arus warga negara Indonesia yang berbondong-bondong sekolah ke luar negeri. Otomatis prestasi akademik yang tinggi bukan menjadi acuan input untuk diterima di sekolah ini, namun sekolah ini biasanya mengandalkan beberapa “jurus” pola belajar dengan membawa pendekatan teori tertentu sebagai daya tariknya. Sehingga output yang dihasilkan dapat sesuai dengan apa yang dijanjikannya.

Tipe 3
Sekolah unggul ini menekan pada iklim belajar yang positif di lingkungan sekolah. Menerima dan mampu memproses siswa yang masuk sekolah tersebut (input ) dengan prestasi rendah menjadi lulusan (output) yang bermutu tinggi.

Ada baiknya kita lihat definisi dari sekolah unggulan yang berkembang saat ini. Sekolah Unggulan adalah Terjemahan bebas dari “Effective School”

An Effective School is a school that can, in measured student achievement terms, demonstrate the joint presence of quality and equity. Said another way, an Effective School is a school that can, in measured student achievement terms and reflective of its “learning for all” mission, demonstrate high overall levels of achievement and no gaps in the distribution of that achievement across major subsets of the student population.
(EFFECTIVE SCHOOLS RESEARCH AND THE ROLE OF PROFESSIONAL LEARNING COMMUNITIES)

Jadi dengan kata lain sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu membawa setiap siswa mencapai kemampuannya secara terukur dan mampu ditunjukkan prestasinya tersebut.

Nah timbul pertanyaan dari saya pribadi soal ujian nasional yang dilaksanakan kemarin, apakah memang benar evaluasi tersebut mampu menunjukkan kemampuan anak secara terukur dan mampu menunjukkan prestasinya tersebut?

Karena sekolah bisa dikatakan unggul dalam pencapaiannya. Ada beberapa faktor yang harus dicapai bila sekolah tersebut bisa dikategorikan sekolah unggul:

1. Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Profesional

Kepala Sekolah seharusnya memiliki kemampuan pemahaman dan pemahaman yang menonjol. Dari beberapa penelitian, tidak didapati sekolah yang maju namun dengan kepala sekolah yang bermutu rendah.

Penelitian Standfield, dkk (1987) selama 20 bulan di Sekolah Dasar Garvin Missouri dan Gibbon (1986) di sekolah-sekolah negeri di Ohio selama tahun ajaran 1982/1983, keduanya menemukan bahwa peran kepala sekolah yang efektif dan profesional mampu mengangkat nama sekolah mereka sehingga mampu memperbaiki prestasi akademik mereka.

2. Guru-guru yang tangguh dan profesional

Guru merupakan ujung tombak kegiatan sekolah karena berhadapan langsung dengan siswa. Guru yang profesional mampu mewujudkan harapan-harapan orang tua dan kepala sekolah dalam kegiatan sehari-hari di dalam kelas.

3. Memiliki tujuan pencapaian filosofis yang jelas

Tujuan filosofis diwujudkan dalam bentuk Visi dan Misi seluruh kegiatan sekolah. Tidak hanya itu, visi dan misi dapat di cerna dan dilaksanakan secara bersama oleh setiap elemen sekolah.

4. Lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran

Lingkungan yang kondusif bukanlah hanya ruang kelas dengan berbagai fasilitas mewah, lingkungan tersebut bisa berada di tengah sawah, di bawah pohon atau di dalam gerbong kereta api -siapa yang sudah baca Toto Chan?- Yang jelas lingkungan yang kondusif adalah yang lingkungan yang dapat memberikan dimensi pemahaman secara menyeluruh bagi siswa

5. Jaringan organisasi yang baik

Jelas, organisasi yang baik dan solid baik itu organisasi guru, orang tua akan menambah wawasan dan kemampuan tiap anggotanya untuk belajar dan terus berkembang. Serta perlu pula dialog antar organisasi tersebut, misalnya forum Orang Tua Murid dengan forum guru dalam menjelaskan harapan dari guru dan kenyataan yang dialami guru di kelas.

6. Kurikulum yang jelas

Permasalahan di Indonesia adalah kurikulum yang sentralistik dimana Diknas membuat kurikulum dan dilaksanakan secara nasional. Dengan hanya memuat 20% muatan lokal menjadikan potensi daerah dan kemampuan mengajar guru dan belajar siswa terpasung. Selain itu pola evaluasi yang juga sentralistik menjadikan daerah semakin tenggelam dalam kekayaan potensi dan budayanya.

Ada baiknya kemampuan membuat dan mengembangkan kurikulum disesuaikan di tiap daerah bahkan sekolah. Pusat hanya membuat kisi-kisi materi yang akan diujikan secara nasional. Sedang pada pelaksanaan pembelajaran diserahkan kepada daerah dan tiap sekolah menyusun kurikulum dan target pencapaian pembelajaran sendiri. Diharapkan akan muncul sekolah unggulan dari tiap daerah karena memiliki corak dan pencapaian sesuai dengan potensinya. Seperti misalnya sekolah di Kalimantan memiliki corak dan target pencapaian mampu mengolah hasil hutan dan tambang juga potensi seni dan budaya mampu dihasilkan sekolah-sekolah di Bali.

7. Evaluasi belajar yang baik berdasarkan acuan patokan untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran dari kurikulum sudah tercapai

Bila kurikulum sudah tertata rapi dan jelas, akan dapat teridentivikasi dan dapat terukur targer pencapaian pembelajaran sehingga evaluasi belajar yang diadakan mampu mempetakan kemampuan siswa.

8. Partisipasi orang tua murid yang aktif dalam kegiatan sekolah.

Di sekolah unggulan dimanapun, selalu melibatkan orang tua dalam kegiatannya. Kontribusi yang paling minimal sekali adalah memberikan pengawasan secara sukarela kepada siswa pada saat istirahat. Pada proses yang intensif, orang tua dilibatkan dalam proses penyusunan kurikulum sekolah sehingga orang tua memiliki tanggung jawab yang sama di rumah dalam mendidik anak sesuai pada tujuan yang telah dirumuskan. Sehingga terjalin sinkronisasi antara pola pendidikan di sekolah dengan pola pendidikan di rumah
Pada akhirnya sekolah unggulan adalah program bersama seluruh masyarakat, yang tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, sekolah dan orang tua secara perorangan. Namun menjadi tanggung jawab bersama dalam peningkatan SDM Indonesia.
Pustaka:
Characteristics of Effective Schools; CT Council of P&C Associations (http://www.schoolparents.canberra.net.au/effective_schools)

EFFECTIVE SCHOOLS RESEARCH AND THE ROLE OF PROFESSIONAL LEARNING COMMUNITIES; Terry McLaughlin, Assistant Superintendent, Student Services San Bernardino County Superintendent of Schools
(http://www.fcoe.k12.ca.us/eduscrvc/spec_ed_docs%5CEffective%20Schools%2010-04.ppt

sumber: http://teknologipendidikan.wordpress.com/2006/09/12/sekolah-unggulan/

Sekolah Unggulan Yang Tidak Unggul

Oleh Drs. Nurkolis, MM
Kualitas manusia Indonesia rendah telah menjadi berita rutin. Setiap keluar laporan Human Development Index, posisi kualitas SDM kita selalu berada di bawah. Salah satu penyebab dan sekaligus kunci utama rendahnya kualitas manusia Indonesia adalah kualitas pendidikan yang rendah. Kualitas sosial-ekonomi dan kualitas gizi-kesehatan yang tinggi tidak akan dapat bertahan tanpa adanya manusia yang memiliki pendidikan berkualitas.

Negeri ini sedang berjuang keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan, namun hasilnya belum memuaskan. Kini upaya meningkatkan kualitas pendidikan ditempuh dengan membuka sekolah-sekolah unggulan, misal Sekolah Taruna Nusantara. Sekolah unggulan dipandang sebagai salah satu alternatif yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus kualitas SDM. Sekolah unggulan diharapkan melahirkan manusia-manusia unggul yang amat berguna untuk membangun negeri yang kacau balau ini. Tak dapat dipungkiri setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi manusia unggul. Hal ini dapat dilihat dari animo masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah-sekolah unggulan. Setiap tahun ajaran baru sekolah-sekolah unggulan dibanjiri calon siswa, karena adanya keyakinan bisa melahirkan manusia-masnusia unggul. Benarkan sekolah-sekolah unggulan kita mampu melahirkan manusia-manusia unggul?

Sebutan sekolah unggulan itu sendiri kurang tepat. Kata “unggul” menyiratkan adanya superioritas dibanding dengan yang lain. Kata ini menunjukkan adanya “kesombongan” intelektual yang sengaja ditanamkan di lingkungan sekolah. Di negara-negara maju, untuk menunjukkan sekolah yang baik tidak menggunakan kata unggul (excellent) melainkan effective, develop, accelerate, dan essential (Susan Albers Mohrman, et.al., School Based Management: Organizing for High Performance, San Francisco, 1994, h. 81).

Dari sisi ukuran muatan keunggulan, sekolah unggulan di Indonesia juga tidak memenuhi syarat. Sekolah unggulan di Indonesia hanya mengukur sebagian kemampuan akademis. Dalam konsep yang sesungguhnya, sekolah unggul adalah sekolah yang secara terus menerus meningkatkan kinerjanya dan menggunakan sumberdaya yang dimilikinya secara optimal untuk menumbuh-kembangkan prestasi siswa secara menyeluruh. Berarti bukan hanya prestasi akademis saja yang ditumbuh-kembangkan, melainkan potensi psikis, fisik, etik, moral, religi, emosi, spirit, adversity dan intelegensi.

Konsep Sekolah Unggulan
Sekolah unggulan yang sebenarnya dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga sekolah, bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan. Dalam konsep sekolah unggulan yang saat ini diterapkan, untuk menciptakan prestasi siswa yang tinggi maka harus dirancang kurikulum yang baik yang diajarkan oleh guru-guru yang berkualitas tinggi. Padahal sekolah unggulan yang sebenarnya, keunggulan akan dapat dicapai apabila seluruh sumber daya sekolah dimanfaatkan secara optimal. Berati tenaga administrasi, pengembang kurikulum di sekolah, kepala sekolah, dan penjaga sekolah pun harus dilibatkan secara aktif. Karena semua sumber daya tersebut akan menciptakan iklim sekolah yang mempu membentuk keunggulan sekolah.

Keunggulan sekolah terletak pada bagaimana cara sekolah merancang-bangun sekolah sebagai organisasi. Maksudnya adalah bagaimana struktur organisasi pada sekolah itu disusun, bagaimana warga sekolah berpartisipasi, bagaimana setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab yang sesuai dan bagaimana terjadinya pelimpahan dan pendelegasian wewenang yang disertai tangung jawab. Semua itu bermuara kepada kunci utama sekolah unggul adalah keunggulan dalam pelayanan kepada siswa dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Menurut Profesor Suyanto, program kelas (baca: sekolah) unggulan di Indonesia secara pedagogis menyesatkan, bahkan ada yang telah memasuki wilayah malpraktik dan akan merugikan pendidikan kita dalam jangka panjang. Kelas-kelas unggulan diciptakan dengan cara mengelompokkan siswa menurut kemampuan akademisnya tanpa didasari filosofi yang benar. Pengelompokan siswa ke dalam kelas-kelas menurut kemampuan akademis tidak sesuai dengan hakikat kehidupan di masyarakat. Kehidupan di masyarakat tak ada yang memiliki karakteristik homogen (Kompas, 29-4-2002, h.4).

Bila boleh mengkritisi, pelaksanaan sekolah unggulan di Indonesia memiliki banyak kelemahan selain yang dikemukakan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta di atas. Pertama, sekolah unggulan di sini membutuhkan legitimasi dari pemerintah bukan atas inisiatif masyarakat atau pengakuan masyarakat. Sehingga penetapan sekolah unggulan cenderung bermuatan politis dari pada muatan edukatifnya. Apabila sekolah unggulan didasari atas pengakuan masyarakat maka pemerintah tidak perlu mengucurkan dana lebih kepada sekolah unggulan, karena masyarakat akan menanggung semua biaya atas keunggulan sekolah itu.

Kedua, sekolah unggulan hanya melayani golongan kaya, sementara itu golongan miskin tidak mungkin mampu mengikuti sekolah unggulan walaupun secara akademis memenuhi syarat. Untuk mengikuti kelas unggulan, selain harus memiliki kemampuan akademis tinggi juga harus menyediakan uang jutaan rupiah. Artinya penyelenggaraan sekolah unggulan bertentangan dengan prinsip equity yaitu terbukanya akses dan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk menikmati pendidikan yang baik. Keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan ini amat penting agar kelak melahirkan manusia-manusia unggul yang memiliki hati nurani yang berkeadilan.

Ketiga, profil sekolah unggulan kita hanya dilihat dari karakteristik prestasi yang tinggi berupa NEM, input siswa yang memiliki NEM tinggi, ketenagaan berkualitas, sarana prasarana yang lengkap, dana sekolah yang besar, kegiatan belajar mengajar dan pengelolaan sekolah yang kesemuanya sudah unggul. Wajar saja bila bahan masukannya bagus, diproses di tempat yang baik dan dengan cara yang baik pula maka keluarannya otomatis bagus. Yang seharusnya disebut unggul adalah apabila masukan biasa-biasa saja atau kurang baik tetapi diproses ditempat yang baik dengan cara yang baik pula sehingga keluarannya bagus.

Oleh karena itu penyelenggaraan sekolah unggulan harus segera direstrukturisasi agar benar-benar bisa melahirkan manusia unggul yang bermanfaat bagi negeri ini. Bibit-bibit manusia unggul di Indonesia cukup besar karena prefalensi anak berbakat sekitar 2 %, artinya setiap 1.000 orang terdapat 20 anak berbakat (Daniel P. Hallahan dan James M. Kauffman, Exceptional Children: Introduction To Special Education, New Jersey: Prentice-Hall international, Inc., 1991), hh. 6-7). Berdasarkan prakiraan Lembaga Demografi UI (1991) penduduk usia sekolah di Indonesia tahun 2000 diperkirakan sebesar 76.478.249, maka kita akan memiliki anak berbakat (baca: unggul) sebanyak 1.529.565 orang. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan pimpinan dari tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan.

Restrukturisasi Sekolah Unggulan
Maka konsep sekolah unggulan yang tidak unggul ini harus segera direstrukturisasi. Restrukrutisasi sekolah unggulan yang ditawarkan adalah sebagai berikut: pertama, program sekolah unggulan tidak perlu memisahkan antara anak yang memiliki bakat keunggulan dengan anak yang tidak memiliki bakat keunggulan. Kelas harus dibuat heterogen sehingga anak yang memiliki bakat keunggulan bisa bergaul dan bersosialisasi dengan semua orang dari tingkatan dan latar berlakang yang beraneka ragam. Pelaksanaan pembelajaran harus menyatu dengan kelas biasa, hanya saja siswa yang memiliki bakat keunggulan tertentu disalurkan dan dikembangkan bersama-sama dengan anak yang memiliki bakat keunggulan serupa. Misalnya anak yang memiliki bakat keunggulan seni tetap masuk dalam kelas reguler, namun diberi pengayaan pelajaran seni.

Kedua, dasar pemilihan keunggulan tidak hanya didasarkan pada kemampuan intelegensi dalam lingkup sempit yang berupa kemampuan logika-matematika seperti yang diwujudkan dalam test IQ. Keunggulan seseorang dapat dijaring melalui berbagai keberbakatan seperti yanag hingga kini dikenal adanya 8 macan.

Ketiga, sekolah unggulan jangan hanya menjaring anak yang kaya saja tetapi menjaring semua anak yang memiliki bakat keunggulan dari semua kalangan. Berbagai sekolah unggulan yang dikembangkan di Amerika justru untuk membela kalangan miskin. Misalnya Effectif School yang dikembangkan awal 1980-an oleh Ronald Edmonds di Harvard University adalah untuk membela anak dari kalangan miskin karena prestasinya tak kalah dengan anak kaya. Demikian pula dengan School Development Program yang dikembangkan oleh James Comer ditujukan untuk meningkatkan pendidikan bagi siswa yang berasal dari keluarga miskin. Accellerated School yang diciptakan oleh Henry Levin dari Standford University juga memfokuskan untuk memacu prestasi yang tinggi pada siswa kurang beruntung atau siswa beresiko. Essential school yang diciptakan oleh Theodore Sizer dari Brown University, ditujukan untuk memenuhi kebutuhan siswa kurang mampu.

Keempat, sekolah unggulan harus memiliki model manajemen sekolah yang unggul yaitu yang melibatkan partisipasi semua stakeholder sekolah, memiliki kepemimpinan yang kuat, memiliki budaya sekolah yang kuat, mengutamakan pelayanan pada siswa, menghargasi prestasi setiap siswa berdasar kondisinya masing-masing, terpenuhinya harapan siswa dan berbagai pihak terkait dengan memuaskan.

Itu semua akan tercapai apabila pengelolaan sekolah telah mandiri di atas pundak sekolah sendiri bukan ditentukan oleh birokrasi yang lebih tinggi. Saat ini amat tepat untuk mengembangkan sekolah unggulan karena terdapat dua suprastruktur yang mendukung. Pertama, UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dimana pendidikan termasuk salah satu bidang yang didesentralisasikan. Dengan adanya kedekatan birokrasi antara sekolah dengan Kabupaten/Kota diharapkan perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan sekolah unggulan semakin serius.

Kedua, adanya UU No. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004 yang didalamnya memuat bahwa salah satu program pendidikan pra-sekolah, pendidikan dasar dan pendidikan menengah adalah terwujudnya pendidikan berbasis masyarakat/sekolah. Melalui pendidikan berbasis masyarakat/sekolah inilah warga sekolah akan memiliki kekuasaan penuh dalam mengelola sekolah. Setiap sekolah akan menjadi sekolah unggulan apabila diberi wewenang untuk mengelola dirinya sendiri dan diberi tanggung jawab penuh. Selama sekolah-sekolah hanya dijadikan alat oleh birokrasi di atasnya (baca: dinas pendidikan) maka sekolah tidak akan pernah menjadi sekolah unggulan. Bisa saja semua sekolah menjadi sekolah unggulan yang berbeda-beda berdasarkan pontensi dan kebutuhan warganya. Apabila semua sekolah telah menjadi sekolah unggulan maka tidak sulit bagi negeri ini untuk bangkit dari keterpurukannya. Nurkolis, Dosen Akademi Pariwisata Nusantara Jaya di Jakarta

Sumber: Pendidikan Network, http://re-searchengines.com/nurkolis3.html

Keberhasilan Jepang Mengelola Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ)

oleh Sutawi
Universitas Muhammadiyah Malang

Abstrak: Kemajuan Jepang yang cepat dan pesat disebabkan keberhasilan bangsa Jepang mengelola tiga kecerdasan bangsa, yaitu mengembangkan kecerdasan intelektual (develop the IQ), menumbuhkan kecerdasan emosional (growth the EQ), dan menanamkan kecerdasan spiritual (internalisation the SQ). Pengembangan kecerdasan intelektual bangsa Jepang dilakukan melalui sistem pendidikan yang konsisten dan bermutu. Penumbuhan kecerdasan emosional berlangsung secara mudah karena Jepang merupakan negara yang benar-benar “satu nusa”, “satu bangsa”, dan “satu bahasa”. Penananam kecerdasan spiritual sangat dipengaruhi oleh semangat Bushido yang sangat asketik, berdisiplin tinggi, dan menjunjung tinggi kode etik dan tata krama dalam kehidupan. Tradisi dan budaya Jepang yang sudah terbiasa dan turun-temurun menanamkan kecerdasan spriritual dengan metode Repetitive Magic Power (RMP), menjadikan Jepang sebagai bangsa yang memiliki kepribadian luhur.

Kata kunci: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual.

Pendahuluan
Jepang saat ini merupakan salah satu kekuatan besar dalam era globalisasi ekonomi, politik, dan budaya, selain Amerika Serikat dan Eropa Barat. Seperti halnya daur hidup produk (product life cycle) buatan Jepang, perjalanan pembangunan Jepang mencapai kekuatan global juga mengalami siklus, mulai tahap pengembangan, pengenalan, pertumbuhan, kematangan, kejenuhan, dan penurunan.

Tahap pengembangan pembangunan yang penting atas Jepang dimulai pada tahun 1603. Pada saat itu, Ieyasu yang telah berhasil menyatukan seluruh Jepang, membangun kekaisarannya di Edo (sekarang Tokyo). Hasil dari politik Ieyasu ini kemudian dimanfaatkan oleh Kekaisaran Tokugawa pada tahun 1639 dengan lahirnya Politik Isolasi.

Politik Isolasi bertahan lebih dari 200 tahun sampai pada tahun 1853, ketika Komodor Perry dari angkatan laut Amerika Serikat dengan 4 buah kapalnya memaksa Jepang untuk membuka diri kembali terhadap dunia luar (Kompas, 2005). Mulai saat itulah bangsa Jepang membuka diri terhadap globalisasi ekonomi. Dorongan modernisasi pada periode ini merupakan tahap pengenalan pembangunan Jepang.

Tahap pertumbuhan pembangunan dimulai ketika Kekaisaran Tokugawa berakhir pada tahun 1867, dan digantikan dengan Kekaisaran Meiji. Pada zaman ini Jepang banyak mengalami kemajuan, dan hanya dalam beberapa dekade mampu menyejajarkan diri dengan negara-negara barat. Pada akhir periode Restorasi Meiji Jepang telah mencapai tahap kematangan pembangunan.

Kaisar Meiji meninggal pada tahun 1912, dan dimulailah Kekaisaran Showa. Kekaisaran Showa ini dimulai dengan kondisi yang menjanjikan. Industri yang terus berkembang, dan kehidupan politik yang telah mengakar di parlemen-parlemen pemerintahan. Namun, masalah-masalah baru terus bermunculan.

Krisis ekonomi dunia menekan kehidupan rakyat, hingga pada akhirnya pecah Perang Pasifik pada tahun 1941. Inilah tanda-tanda kejenuhan pembangunan Jepang mulai terjadi. Akhirnya, Jepang memasuki tahap penurunan pembangunan pada tahun 1945, ketika Jepang menyerah pada sekutu akibat semakin melemahnya kekuatannya setelah Hiroshima dan Nagasaki dilumpuhkan.

Seperti halnya produk buatan Jepang, setelah memasuki tahap penurunan diperlukan kemampuan “create new and different” (membuat sesuatu baru dan berbeda) untuk membangun kekuatan baru. Pada awal kalah perang, pemulihan ekonomi Jepang berjalan lambat.

Dalam masa tidak lebih dari 10 tahun, dibantu dengan negara-negara luar, Jepang mampu tegak kembali dan bersaing di pasar internasional. Satu bukti dari kebangkitannya itu adalah dengan menjadi tuan rumah Olimpiade Tokyo 1964, dan pada 1975 Jepang sudah diakui menjadi negara maju dan masuk dalam kelompok negara G-7.

Dalam kurun waktu 25 tahun Jepang menjadi negara maju dan diperhitungkan di Asia bahkan di dunia.

Saat ini Jepang telah berada di puncak peradaban, rakyatnya sejahtera, tidak terjadi konflik di dalam negeri maupun dengan negara lain. Dalam bidang pendidikan, Jepang memberikan ribuan beasiswa dari berbagai negara. Dalam bidang industri, barang produksinya dipakai di seluruh dunia. Dalam bidang ekonomi, investasinya menyebar ke seluruh dunia. Dalam bidang sosial, besar sekali bantuannya pada negara berkembang dan negara miskin. Dalam dunia politik pun Jepang berperan penting dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Tulisan ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan keberhasilan Jepang mengelola kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ), sehingga dapat menjadi contoh negara di dunia yang adil makmur, yaitu negara yang adil dalam kemakmurannya, dan makmur dalam keadilannya.

Kajian Literatur : Kecerdasan Bangsa
Dewasa ini banyak pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia datang ke Jepang untuk menuntut ilmu. Pada umumnya mereka ingin mempelajari perekonomian Jepang yang maju pesat, juga berbagai pengetahuan dan teknologi. Mereka juga ingin mengetahui faktor yang membuat bangsa Jepang dapat mencapai perkembangan perekonomian seperti sekarang ini, dan mengapa perekonomian bangsa ini dapat masuk, menguasai dan memenangi persaingan dunia.

Banyak bangsa lain di dunia yang menilai bahwa kemajuan Jepang yang cepat dan pesat itu adalah akibat kecerdasan intelektual bangsa Jepang yang tinggi yang diperoleh dari sistem pendidikan yang bermutu.

Karena itu, banyak negara, termasuk Indonesia, berbondong-bondong mengirimkan pelajar, mahasiswa, dan pemudanya untuk magang dan menempuh pendidikan lanjutan di Jepang. Penilaian bahwa kemajuan Jepang akibat kecerdasan intelektual saja adalah bagaikan mengupas buah kelapa, tetapi hanya mendapat kulitnya, tanpa berusaha mengambil buah dan sarinya.

Karena itu, meskipun banyak negara telah mengirim ribuan generasi mudanya berlajar ke Jepang, belum ada satu pun dari negara itu yang mengalami kemajuan seperti bangsa Jepang.

Bangsa Jepang sendiri jarang sekali berbangga atas kecerdasan intelektualnya. Mereka menyadari bahwa setiap manusia, bahkan setiap bangsa, dapat mengembangkan kecerdasan intelektualnya melalui pendidikan dan pelatihan yang teratur.

Pendidikan yang hanya menciptakan kemampuan intelektual tanpa membangkitkan hati nurani akan menghasilkan manusia yang
rapuh dan jiwa yang hampa dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Pembaharuan bidang pendidikan di Jepang dijalankan secara bersamaan dengan upaya melestarikan nilai-nilai tradisional dan nilai-nilai keagamaan. Terbukti kemudian, Jepang menjadi bangsa yang bergerak jauh ke depan dengan tetap berakar pada budayanya sendiri.

Sejalan dengan pemikiran bangsa Jepang, Fatwa (2006) mengemukakan bahwa pendidikan harus memiliki “ruh” yang mengembangkan nilai-nilai bijak, dan mengarahkan pada kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient, IQ), kecerdasan emosional (Emosional Quotient, EQ), dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient, SQ). EQ dan SQ sangat berperan dalam menunjang keberhasilan seseorang dalam perjuangan hidupnya. Kearifan untuk mengendalikan emosi akan menunjang bekerjanya nalar dan intelektual.

EQ akan membangun motivasi, empati, kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain, sifat simpatik, solidaritas, dan interaksi sosial yang tinggi.

Sementara SQ akan membimbing suara hati yang jernih yang mengarah kepada nafsu luhur, berani menghadapi hidup dengan optimis, kreatif, fleksibel, dan visioner, serta memberikan kekuatan moral, memberikan kepastian jawaban tentang sesuatu yang baik dan buruk, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan dan lingkungannya.

Kesemuanya akan mewujudkan kemampuan mengubah hambatan menjadi peluang, dan ketahanan dalam menghadapi tantangan hidup, yang dikenal dengan istilah Adversity Quotient (AQ).

Dengan belajar pada pendidikan Jepang sejak jaman sejarah sampai sekarang, dapat diketahui bahwa kemajuan Jepang yang cepat dan pesat adalah akibat keberhasilan bangsa Jepang mengelola tiga kecerdasan manusia, yaitu mengembangkan kecerdasan intelektual (develop the IQ), menumbuhkan kecerdasan emosional (growth the EQ), dan menanamkan kecerdasan spiritual (internalisation the SQ).

Pengembangan Kecerdasan Intelektual

Proses pengembangan kecerdasan intelektual bangsa Jepang melalui pendidikan bisa dilacak sejak Restorasi Meiji (1852-1912), ketika para samurai yang berpikiran maju menghendaki Jepang yang modern. Setelah selesainya era Tokugawa yang penuh perang, Jepang mengalami masa damai selama 200 tahun.

Ketika memasuki era damai selama 200 tahun itu, para samurai mengabdikan diri sebagai guru. Mereka mendidik anak-anak orang kaya, terutama kasta pedagang, karena Jepang waktu itu masih mengenal kasta.

Kasta paling tinggi adalah samurai, kemudian kesatria, pedagang, petani, dan beberapa kasta lagi di bawahnya. Para samurai kebanyakan mendidik kasta pedagang, karena para pedagang ingin naik kasta.

Para samurai memang tidak hanya bisa perang, tapi juga tahu sastra, tata negara, hukum, dan lebih dari itu, bisa membaca huruf Kanji yang memang terkenal susah. Itulah yang menjadi modal Jepang untuk maju.

Hasil pendidikan para samurai adalah tingginya tingkat melek huruf orang Jepang di era Meiji yang mencapai 98%. Pada periode yang sama tingkat melek huruf Eropa ketika itu, paling tinggi masih sekitar 60-70% (Prasetyawan, 2006).

Jadi, ketika Jepang akan masuk proses industrialisasi sudah memiliki sumber daya manusia (human resource) yang trampil dan cukup terdidik. Mereka sudah siap untuk mentransformasi dirinya, tidak hanya mengubah pola pikir (mindset), tapi ikut dalam proses industralisasi.

Ketika memasuki era Kaisar Meiji pada pertengahan abad ke-18, bangsa Jepang sudah sadar bahwa untuk membangun bangsa menuju ke arah yang lebih baik, rakyat Jepang membutuhkan generasi yang lebih pandai. Karena itulah, pendidikan merupakan pilar utama yang harus ditegakkan sebelum melaju ke bidang-bidang yang lain.

Kaisar Meiji yang terkenal visioner menyadari bahwa kalau bangsa Jepang ingin maju, maka harus berpikir ala Eropa dan Amerika. Dimulailah proses reformasi yang disebut Restorasi Meiji itu dengan pendidikan sebagai mata tombak. Pendidikan menjadi hak dan kewajiban semua warga.Jepang pun pada masa itu kemudian menyusun gerakan Bummeikaika, atau gerakan memberadabkan bangsa Jepang.

Gerakan tersebut dilaksanakan dengan pembaharuan pendidikan, terutama mendorong bangsa Jepang untuk meninggalkan feodalisme dan mengedepankan logika. Sejak itu juga, Kaisar Meiji mulai mengirim tunas-tunas muda Jepang yang cerdas untuk belajar ke Eropa dan Amerika.

Untuk modernisasi angkatan laut, mereka belajar dari Inggris yang ketika itu punya armada laut paling kuat di dunia, sedangkan untuk belajar teknik mereka belajar ke Jerman.

Restorasi Jepang berjalan sangat cepat dan efisien mulai tahun 1853. Dengan menjadikan dirinya sebagai penyerap pola pikir dan cara hidup bangsa Barat, Jepang telah memilih langkah yang tepat untuk kemajuan bangsanya.

Dalam waktu kurang dari 100 tahun sejak Restorasi Meiji dimulai, Jepang telah menjadi negara dengan kekuatan ekonomi dan militer yang patut diperhitungkan di kawasan Asia bahkan dunia (Sucahyo, 2003).

Menjelang akhir abad ke-19 Jepang sudah berhasil menjadi kekuatan militer dengan angkatan laut yang sangat tangguh, sehingga dapat mengalahkan secara mutlak armada raksasa Rusia di Selat Tsushima, menyapu bersih kepulauan Sachalin, mengambil Korea dan Semenanjung Liau-Tung dari Rusia, serta Port Arthur dan Dairen.

Jepang yang sebelumnya tabu dalam soal politik dalam negeri, kemudian juga mengijinkan berdirinya Seiyukai Party (Partai Liberal) dan Minseito Party (Partai Progresif).

Setelah kekalahan Perang Dunia II, meski dengan anggaran belanja negara yang minim dan pas-pasan, Jepang mulai menerapkan strategi pendidikan dari SD sampai Universitas yang berstrategi, mengirim banyak orang-orang mudanya belajar ke negara lain.

Generasi manusia baru mereka saat itu juga bekerja keras 2.100 jam per tahun, sehingga pendapatan perkapita mereka meningkat dari sekitar 6 ribu yen tahun 1946 menjadi 200 ribu Yen tahun 60-an, selanjutnya menjadi 1 juta Yen tahun 1970.

Saat itu, mereka membelanjakan sekitar 20 persen uang negara pada bidang pendidikan dan sains, melakukan penelitian dengan mencetak banyak mahasiswa-mahasiwa master dan doktor.

Saat ini, wajib belajar 9 tahun dikenakan bagi anak berumur 6-15 tahun, dan 100% anak berusia tersebut pergi ke sekolah, 96% lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat atas, dan 45% lulusan sekolah lanjutan tingkat atas melanjutkan ke perguruan tinggi (Ghozali, 2001).

Di bidang penerbitan, karena generasi manusia mereka gemar membaca, sampai tahun 80-an mereka sudah sudah mencetak sekitar 1,2 trilliun copy buku, dan puncaknya tahun 1997 mencapai 1,5 trilliun copy.

Sirkulasi suratkabar generasi manusia Jepang tahun 2002 mencapai 70,8 juta copy dengan perbandingan 653 copy per 1000 penduduk, tertinggi di dunia, jauh melebihi Amerika yang 269 copy per 1000 penduduk.

Sekitar 70 juta dari 127 juta penduduk Jepang adalah pengguna internet, bandingkan dengan generasi manusia Indonesia yang hanya 2 persen (Humaniora, 2006).

Penumbuhan Kecerdasan Emosional
Penumbuhan kecerdasan emosional atau kesetiakawanan sosial di Jepang dapat berlangsung secara mudah, karena Jepang merupakan negara yang benar-benar “satu nusa”, “satu bangsa”, dan “satu bahasa”.

Hampir semua dari 127 juta penduduk Jepang adalah ras Mongoloid Asia, sehingga masyarakatnya relatif homogen. Bahasa Jepang merupakan bahasa nasional, dan digunakan di semua lembaga pendidikan.

Secara sosial-ekonomi, tidak terjadi kesenjangan yang tinggi dalam kekayaan, dan hampir semua orang Jepang dapat dikatakan berada dalam kelas menengah dengan pendapat rata-rata pekerja sekitar 7 juta yen (sekitar Rp 560 juta) per tahun.

Sebagian besar orang Jepang beragama Budha, sebagian lagi Shinto, dan sebagian kecil beragama Kristen. Jepang yang luasnya setara dengan luas pulau-pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara ini merupakan negara kepulauan berbentuk bulan sabit yang menjulur dari utara ke selatan di Asia Timur Jauh.

Negara tersebut tediri dari empat pulau utama (Honshu, Hokkaido, Kyusyu, dan Shikoku) dan sekitar 3000 pulau kecil. Jepang yang 70% wilayahnya berupa pegunungan, memiliki empat musim, yaitu panas, gugur, dingin, dan semi.

Potensi sumber daya alam Jepang sangat terbatas, karena kesuburan tanahnya hanya 12% yang dapat dipergunakan untuk pertanian. Pertanian merupakan sektor usaha orang Jepang sebelum sektor-sektor industri dan jasa berkembang dengan sangat pesat.

Keadaan alam yang sempit, kurang subur, dan adanya empat musim telah mempengaruhi tingkat laku bangsa Jepang. Menurut Fukumoto (1997) watak dan perangai orang Jepang yang rajin, terampil, gigih, tidak menyia-nyiakan waktu dan peluang, serta selalu berusaha mencapai keberhasilan pada hakikatnya ditempa dan dibentuk oleh sempitnya tanah dan adanya empat musim.

Suasana empat musim yang silih berganti mengajarkan kepada bangsa Jepang untuk dapat bertahan, mengatasi kesulitan, dan melakukan persiapan untuk musim berikutnya. Hal seperti itulah yang membuat mereka menjadi bangsa yang rajin dan gigih. Jika tidak, mereka akan sulit untuk menundukkan dan mengatasi keperkasaan alam.

Sejak ribuan tahun yang lalu, para petani dituntut untuk dapat memanfaatkan tanah yang sempit sehingga menghasilkan padi yang banyak, juga menjadi bangsa yang selalu berusaha. Kehidupan bertani juga mengajarkan kepada bangsa Jepang cara bergaul yang baik dengan orang lain.

Iklim yang berubah-ubah dan suasana masyarakat petanilah yang menyebabkan bangsa Jepang dapat berusaha dan hidup di luar negaranya. Selain itu, iklim empat musim mempengaruhi watak bangsa Jepang menjadi kreatif dan mampu membuat barang-barang berkualitas yang mudah dipasarkan ke seluruh dunia. Kesemuanya menjadi modal dasar bangsa Jepang dalam memenangi persaingan di era globalisasi ini.

Di mata negara-negara berkembang (developing countries), Jepang merupakan model dalam sukses ekonomi. Di antara negara-negara yang mengikuti Jepang dan muncul sebagai negara industri baru adalah empat macan kecil di Asia, yaitu Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura. Negara-negara ini memiliki latar belakang filsafat Kong Hu Chu yang sama dengan Jepang. Setelah negara-negara ini, kemudian muncul India, China, Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, dan Vietnam yang telah memperkuat diri sebagai negara industri baru. Negara-negara di belahan Asia Timur telah menjadi ajang perkembangan ekonomi yang dinamik di bawah pengaruh Jepang.

Namun demikian, sebagian besar negara-negara Asia tersebut sangat sulit menandingi kemajuan bangsa Jepang, karena kendala kecerdasan emosional atau kesetiakawanan sosial di negaranya. China, Korea Selatan, Taiwan, dan India menghadapi masalah kesenjangan sosial, konflik antar etnis atau antar negara.

Sementara Philipina dan Indonesia menghadapi masalah yang hampir sama. Meskipun kaya sumberdaya alam, di kedua negara itu sering terjadi konflik antar suku bangsa maupun agama.

Penanaman Kecerdasan Spiritual
Pendidikan yang dilakukan kasta samurai sejak era Tokugawa tidak saja mampu mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga berhasil menanamkan kecerdasan spiritual dan membentuk kepribadian bangsa Jepang.

Kedubes Jepang (2006) menjelaskan bahwa pada dasarnya kepribadian Jepang sangat dipengaruhi oleh semangat Bushido yang sangat asketik, berdisiplin tinggi, dan menjunjung tinggi kode etik dan tata krama dalam kehidupan.

Bushido adalah etika moral bagi kaum samurai. Berasal dari zaman Kamakura (1185-1333), terus berkembang mencapai zaman Edo (1603-1867), bushido menekankan kesetiaan, keadilan, rasa malu, tata-krama, kemurnian, kesederhanaan, semangat berperang, kehormatan, dan sebagainya.

Aspek spiritual sangat dominan dalam falsafah bushido. Meski memang menekankan “kemenangan terhadap pihak lawan”, hal itu tidaklah berarti menang dengan kekuatan fisik. Dalam semangat bushido, seorang samurai diharapkan menjalani pelatihan spiritual guna menaklukkan dirinya sendiri, karena dengan menaklukkan diri sendirilah orang baru dapat menaklukkan orang lain.Kekuatan timbul dari kemenangan dalam disiplin diri. Justru kekuatan yang diperoleh dengan cara inilah yang dapat menaklukkan sekaligus mengundang rasa hormat pihak-pihak lain, sebagai kemantapan spiritual. Perilaku yang halus dianggap merupakan aspek penting dalam mengungkapkan kekuatan spiritual.

Internalisasi kecerdasan spiritual bangsa Jepang dapat dilihat pada perusahaan-perusahaan Jepang, baik di dalam negeri maupun yang telah menyebar di seluruh belahan dunia.

Agustian (2006) mencatat 12 rahasia sukses Jepang yang menunjukkan betapa dalam kecerdasan spiritual bangsa Jepang.

Pertama, jujur. Ini terungkap pada pernyataan Makoto Kikuchi (direktur pusat penelitian Sony) yang mau mengakui kelebihan komputer “Apple” buatan Amerika.

Kedua, ingin dirinya bermanfaat. Ini ditunjukkan oleh Makoto dengan ambisinya membuat komputer yang mengerti bahasa Jepang, agar orang Jepang bisa berbicara dengan komputernya.

Ketiga, semangat mencipta. Makoto adalah ahli microprosessor, yang selalu ingin mencoba dan belajar. Semangatnya tertuang dalam mottonya, “Research Makes Difference”.

Keempat, empati dan kerjasama. Makoto sering makan bersama atasannya dan tetap mengenakan seragam yang sama dengan 35.000 karyawan perusahaan Sony lainnya.

Kelima, rendah hati. Inamori pemimpin Kyoto Ceramics tetap menganggap dirinya sebagai karyawan biasa.

Keenam, azas manfaat. “Setiap barang harus ada manfaatnya”, kata Inamori.

Ketujuh, berterima kasih. Suka memberi penghargaan kepada orang yang berjasa di Gamo, Pabrik Kyoto Ceramics.

Kedelapan, disiplin. Ini ditunjukkan di Gamo dengan disiplin ketentaraan dan kewajiban “upacara rutin” setiap pagi seluruh karyawan pabriknya.

Kesembilan, suka memberi. Mereka dengan suka hati memberikan gagasan demi kemajuan perusahaannya.

Kesepuluh, mau mendengar. Sebulan sekali mereka bertemu untuk bertukar pikiran.

Kesebelas, teliti. Hanya 0,1% hasil produksi Sony yang diafkir.

Kedua belas, kebersamaan yang kuat. Tidak suka membeda-bedakan atasan ataupun bawahan.

Pada umumnya upaya internalisasi kecerdasan spriritual yang dilakukan oleh suatu bangsa atau perusahaan adalah melalui penataran, khotbah, ceramah, atau pelatihan. Milyaran dana telah dikeluarkan oleh suatu bangsa atau ribuan perusahaan untuk mengupayakan perubahan sikap dan karakter bangsa atau karyawannya. Dampak paling umum dari kegiatan-kegiatan itu adalah meningkatnya rasa percaya diri peserta, setidaknya untuk sementara waktu. Setelah itu, mereka akan kembali pada kebiasaannya seperti sebelum dilakukan penataran atau pelatihan.

Jepang memiliki mekanisme yang berbeda dalam menanamkan kecerdasan spiritual kepada bangsanya. Untuk membentuk karakter dibutuhkan sebuah pembiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang, konsisten, dan berkesimbungan, yang disebut metode behaviorisme.

Mekanisme ini dinamakan Repetitive Magic Power (RMP). Mekanisme ini umumnya digunakan hampir oleh semua perusahaan atau organisasi di Jepang. Para karateka Jepang misalnya, mereka diminta berteriak, “Saya juara !”, hingga hitungan ke 100 sebelum mereka berlatih. Cara yang sama dilakukan oleh perusahaan Matsushita di seluruh dunia.

Setiap hari setelah apel pagi dan senam Taisho, seluruh karyawan Masushita akan membaca berulang-ulang kata-kata berikut: 1) Berbakti dan Memberi, 2) Jujur dan Terpercaya, 3) Adil, 4) Kerjasama atau Bersatu, 5) Berjuang atau Bersikap Teguh, 6) Ramah dan Penyayang, dan 7) Bersyukur dan Berterima Kasih.

Tradisi dan budaya Jepang yang sudah terbiasa dan turun-temurun menanamkan kecerdasan spriritual dengan metode RMP, menjadikan Jepang sebagai bangsa yang memiliki kepribadian luhur. Melalui perusahan-perusahaan Jepang yang tersebar di seluruh belahan dunia, bangsa Jepang telah berperan melakukan globalisasi budaya dengan mengubah kepribadian bangsa lain.

Simpulan dan Saran
Simpulan
Era globalisasi ekonomi, politik dan budaya memberikan tantangan sekaligus peluang bagi setiap bangsa. Setiap bangsa dapat memperoleh manfaat dari era globalisasi itu jika dapat mengelola kekuatan yang dimiliki bangsanya.

Bangsa Jepang telah menunjukkan jati dirinya sebagai bangsa yang berhasil mengelola tiga kecerdasan bangsanya, yaitu kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, sehingga jadilah bangsa Jepang yang cerdas, maju, tangguh, kaya, adil dan makmur.

Saran
Sekolah merupakan institusi sosial, selain keluarga, yang mempunyai pengaruh kuat untuk mengembangkan, menumbuhkan, dan menanamkan kecerdasan manusia.

Dalam kurikulum pendidikan di Indonesia mulai jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, kecerdasan intelektual (IQ) lebih besar porsinya, tetapi kurang diimbangi dengan pengembangan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).

Hal ini merupakan kendala utama bagi dunia pendidikan untuk mencetak manusia berkualitas yang memiliki ketiga jenis kecerdasan.

Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan seperti yang dicapai bangsa Jepang, selain kurikulum berbasis kompetensi (KBK), pendekatan pembelajaran Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk) merupakan model pembelajaran yang mulai diadopsi sekolah-sekolah di Indonesia.

Menurut teori Multiple Intelligences yang dikembangkan Gardner (2003), kecerdasan seseorang terdiri delapan unsur, yaitu Verbal-Linguistic Intelligence (mengolah kata dan bahasa), Logical-Mathematical Intelligence (mengolah angka dan logika), Spatial Intelligence (berpikir dalam gambar), Musical Intelligence (menyerap, menghargai, menciptakan irama dan melodi), Bodily-Kinesthetic Intelligence (kemampuan memecahkan masalah), Interpersonal Intelligence (hubungan sosial), Intrapersonal Intelligence (refleksi diri), dan Naturalist Intelligence
(kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan).

Multiple Intelligences yang mencakup delapan jenis kecerdasan tersebut pada dasarnya adalah sinergi dari kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).

Untuk mengembangkan proses pembelajaran dengan menggunakan Multiple Intelligences, sarana dan prasarana yang dibutuhkan sebenarnya telah tersedia di lingkungan sekitar.

Menurut Susanto (2005), penerapan Multiple Intelligences dalam proses pembelajaran dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain dengan menggunakan musik untuk mengembangkan Musical Intelligence, belajar kelompok untuk mengembangkan Interpersonal Intelligence, aktivitas seni untuk mengembangkan Spatial Intelligence, bermain peran (role play) untuk mengembangkan Bodily-Kinesthetic Intelligence, refleksi diri untuk mengembangkan Intrapersonal Intelligence, perjalanan ke lapangan (Field Trips) untuk mengembangkan Naturalist Intelligence, dan sebagainya.

Ditegaskan Gardner (2003), “Intelligence is the ability to find and solve problems and create products of value in one’s own culture” (Kecerdasan adalah kemampuan untuk menemukan dan memecahkan berbagai masalah dan menciptakan berbagai produk berharga sesuai budaya bangsa sendiri).

Dengan pola pendidikan yang menyelaraskan perkembangan IQ, EQ dan SQ diharapkan dapat menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang berilmu pengetahuan, beretika moral, berakhlak, menjunjung tinggi martabat manusia, dan berguna dalam kehidupan berbangsa.

Pustaka Acuan
Agustian, Ary Ginanjar. 2006. Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power. Cetakan Kedelapan, Januari 2006. Jakarta: Penerbit Arga.
Fatwa, A.M. 2006. Kontroversi Masalah Pendidikan dan UN. Kompas, Senin 17 Juli 2006.
Fukumoto, Kazutoshi. 1997. Why are Japanese People Diligent, Skillful and Rich ?. Cetakan Kedua, July 1997. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Gardner, Howard. 2003. Frames of mind: The theory of multiple intelligences. New York: Basic Books.
Ghozali, Abas. 2001. Sistem Pendidikan di Jepang. Jurnal Pendidikan Nasional No. 27. Jakarta: Balitbang Depdiknas.
Humaniora. 2006. Menuai Dampak Kegagalan Pendidikan Nasional. Humaniora Edisi Vol. 7/XVIII/Juni 2006.
Kedubes Jepang. 2006. Serba-serbi Karakter Jepang: Kesadaran Kelompok, Kerja Keras, Bushido, dan Senyum Jepang. http://www.id.emb-japan.gp.jp (2 September 2006).
Kompas. 2005. Restorasi Meiji ala Indonesia. Kompas, Sabtu 30 April 2005.
Prasetyawan, Wahyu. 2006. Menunggang Tradisi, Jepang Raih Modernisasi. Jaringan Islam Liberal. http://islamlib.com (15 Mei 2006)
Sucahyo, Nurhadi. 2003. Alih Pola Pikir dan Cara Hidup, Menuju Indonesia yang Lebih Inovatif. Inovasi Online, Minggu 9 Nopember 2003. PPI Jepang.
Susanto, Handy. 2005. Penerapan Multiple Intelligences dalam Sistem Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Penabur – No.04/ Th.IV/ Juli 2005.

sumber: jurnal November 2009, http://www.depdiknas.go.id/

Mengembangkan Kreativitas Peserta Didik dalam Pembelajaran

Herry Widyastono
Pusat Kurikulum Balitbangdiknas
e-mail: herrywidyastono@yahoo.com

Abstrak: Proses pembelajaran di sekolah pada umumnya kurang mengembangkan kreativitas peserta didik dan cenderung lebih menekankan pada pengembangan berpikir logis dan konvergen. Proses pembelajaran yang dapat mengembangkan kreativitas peserta didik terdiri atas kegiatan: 1) pendahuluan (apersepsi), 2) penyajian (kegiatan inti), dan 3) penutup (evaluasi). Kegiatan pendahuluan, sekurang-kurangnya meliputi (a) penjelasan singkat tentang isi pelajaran yang akan dibahas, (b) penjelasan relevansi isi pelajaran yang akan dibahas dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, dan (c) penjelasan kompetensi peserta didik yang ingin dicapai. Kegiatan penyajian, sekurang-kurangnya meliputi proses: (a) eksplorasi, (b) elaborasi, dan (c) konfirmasi. Kegiatan penutup, sekurang-kurangnya guru: (a) melakukan evaluasi formatif terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; (b) memberikan umpan balik terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; (c) merencanakan kegiatan tindak lanjut.
Kata kunci: kreativitas, pembelajaran, konvergen, divergen dan peserta didik.

Pendahuluan
Pada tanggal 5 Agustus 2009 telah dikeluarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif, yang sasarannya antara lain adalah insan kreatif dengan pola pikir dan moodset kreatif; serta industri yang unggul di pasar dalam dan luar negeri, dengan peran dominan wirausahawan lokal.

Kreativitas sebagai faktor mental manusia telah lama diperbincangkan oleh para ahli, dan sejak tahun 1980-an Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas (dulu Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Balitbang Depdikbud) mulai berintensif membahasnya pada berbagai pertemuan ilmiah.

Namun, sampai saat ini penerapannya di lapangan belum seperti yang diharapkan. Pendidikan di sekolah pada umumnya lebih menekankan pada pengembangan berpikir logis dan konvergen (berpikir ke satu arah) dengan melatih peserta didik untuk berpikir dan menemukan suatu pengetahuan yang sudah ditetapkan oleh guru. Kemampuan peserta didik untuk berpikir divergen (ke segala arah) dan memecahkan masalah secara kreatif kurang diperhatikan dan kurang dikembangkan. Salah satu faktor penyebab yang sering dikemukakan oleh guru adalah terlalu saratnya beban belajar peserta didik dalam kurikulum (standar isi) sehingga guru merasa kekurangan waktu untuk mengembangkan kreativitas peserta didik.

Saat ini, dalam bidang industri, politik, ekonomi, dan pendidikan semakin terasa diperlukan kemampuan kreatif para anggotanya. Bahkan, oleh karena perubahan yang cepat terjadi dalam bidang ekonomi, maka timbul suatu tuntutan bagi setiap anggota masyarakat untuk menjadi lebih kreatif.

Bagi guru, kemampuan kreatif merupakan aspek penting yang harus dimiliki untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendorong peserta didik menjadi kreatif. Kemajuan dunia pendidikan memerlukan tingkat kemampuan kreatif yang tinggi dari para pendidik. Kreativitas peserta didik hanya bisa dikembangkan apabila gurunya kreatif.

Guru yang kreatif memiliki kemampuan menyampaikan ilmu pengetahuan kepada para peserta didiknya secara kreatif, sehingga peserta didik menggemari ilmu pengetahuan yang diajarkan kepadanya dan membuat peserta didik dapat berpikir secara kreatif pula. Berpikir kreatif akan menghasilkan produk kreatif sehingga pada gilirannya akan menumbuhkan ekonomi kreatif.

Kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era pembangunan tidak dapat dipungkiri bahwa kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif, berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru dari anggota masyarakatnya. Untuk mencapai hal itu, sikap dan perilaku kreatif perlu dipupuk sejak dini, agar peserta didik tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi mampu menghasilkan pengetahuan baru; tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan pekerjaan baru (wiraswasta).

Berdasar uraian di atas, maka masalah yang akan dipecahkan di sini adalah bagaimanakah mengembangkan kreativitas peserta didik dalam pembelajaran? Melalui penulisan artikel ini, diharapkan, para pendidik memiliki wawasan tentang kreativitas, proses pembelajaran, dan pengembangan kreativitas peserta didik melalui pembelajaran.

Kajian Literatur dan Pembahasan

Kreativitas
Istilah kreativitas didefinisikan oleh para ahli secara berbeda-beda. Vicencio (1992) dan Urban (1996) mengelompokkan definisi kreativitas ke dalam dimensi pribadi, proses, pendorong, dan produk. Keempat dimensi kreativitas tersebut disebut sebagai “the Four p’s of Creativity” (Rhodes, 1994, dalam Utami Munandar, 1988) atau “konsep 4P” menurut Utami Munandar (1988). Manfaat mengkaji konsep 4P ini di samping memperoleh pengertian yang lebih luas tentang kreativitas, dapat juga dipakai sebagai strategi untuk mengembangkan kreativitas peserta didik.

Dimensi Pribadi
Setiap orang memiliki kemampuan kreatif, karena kreativitas merupakan atribut dari semua orang. Kreativitas yang dimiliki manusia lahir bersama dengan lahirnya manusia itu dan dapat muncul serta terwujud dalam semua bidang kegiatan manusia (Utami Munandar, 1988). Oleh karena itu, kreativitas tidak terbatas pada tingkat usia, jenis kelamin, suku, bangsa, dan kebudayaan tertentu (Semiawan, 1984). Namun demikian, orang yang kreatif memiliki ciri-ciri kepribadian yang secara sangat signifikan berbeda dengan orang yang kurang kreatif (Clark, 1983).

Clark (1983) berpendapat bahwa kreativitas sebagai fungsi integratif dari pikiran (thinking), perasaan (feeling), penginderaan (sensing), dan firasat (intuiting). Selanjutnya, Utami Munandar (1988) mengemukakan bahwa dari segi pribadi, kreativitas merupakan ungkapan unik dari keseluruhan kepribadian sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya, dan yang tercermin dalam pikiran, perasaan, sikap, atau perilakunya.

Kreativitas seseorang dapat dicerminkan melalui lima macam perilaku: 1) Fluency, yaitu kelancaran atau kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan; 2) Flexibility, yaitu kemampuan menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam mengatasi persoalan; 3) Originality, yaitu kemampuan mencetuskan gagasan-gagasan asli; (4) Elaboration, yaitu kemampuan menyatakan gagasan secara terperinci; dan 5) Sensitivity, yaitu kepekaan menangkap dan menghasilkan gagasan sebagai tanggapan terhadap suatu situasi (Clark, 1983). Dengan demikian, ditinjau dari segi pribadi, kreativitas menunjuk pada potensi atau daya kreatif yang ada pada setiap pribadi. Kreativitas merupakan hasil dari keunikan pribadi seseorang dalam interaksinya dengan lingkungan.

Dimensi Proses
Kreativitas merupakan hasil dari proses interaksi antara factor-faktor psikologis (internal) dan lingkungan (eksternal) (Amabile, 1983). Karya kreatif tidak lahir hanya karena kebetulan, melainkan melalui serangkaian proses kreatif yang menuntut kecakapan, keterampilan, dan motivasi yang kuat.

Kreativitas sebagai suatu “proses”, suatu pemikiran di mana individu berusaha untuk menemukan hubungan-hubungan yang baru, untuk mendapatkan jawaban, metode, atau cara-cara baru dalam menghadapi suatu masalah. Kreativitas adalah kemampuan untuk membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua konsep atau lebih yang sudah ada dalam pikiran.

Pentingnya melihat kreativitas dari segi proses ditekankan oleh banyak ahli. Hurlock (1972) mengemukakan bahwa kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu obyek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru. Rogers (1970) merumuskan proses kreatif sebagai munculnya dalam tindakan suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu di satu pihak, dan dari kejadian, orang-orang, serta keadaan hidupnya di lain pihak. Dua definisi tersebut di samping menekankan aspek interaksi (“proses”) antara individu dan lingkungannya atau kebudayaannya, juga aspek “baru” dari produk kreatif yang dihasilkan.

Sementara itu, Utami Munandar (1998) merumuskan kreativitas sebagai suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan, dan orijinalitas dalam berpikir. Selanjutnya, Alfian (1983) menyatakan bahwa kreativitas adalah suatu proses upaya manusia atau bangsa untuk membangun dirinya dalam berbagai aspek kehidupannya. Proses kreativitas melalui empat tahap, yaitu: tahap persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verivikasi (Wallas, 1970).

Tahap persiapan ialah tahap pengumpulan informasi atau data yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
Tahap inkubasi ialah tahap pengendapan dalam alam bawah sadar, pencarian inspirasi.
Tahap iluminasi ialah tahap penemuan “….. aha …..” yang bersifat insight, gagasan pemecahan, dan modifikasi untuk melihat kecocokannya.
Tahap verivikasi adalah tahap pengetesan pemecahan dan modifikasi untuk melihat kesesuaiannya.

Dengan demikian, ditinjau dari segi proses, kreativitas menunjuk pada perlunya seseorang berusaha untuk melihat lebih jauh dan lebih mendalam, tidak sekedar menginginkan hasil (produk) secepatnya.

Dimensi Pendorong
Kreativitas dapat berkembang karena adanya dorongan internal dari dalam diri individu (Rogers, 1970) dan dorongan eksternal berupa faktor sosiokultural (Arieti, 1976). Perlunya dorongan eksternal, seperti ditekankan oleh Sumardjan (1983), bahwa timbul dan tumbuhnya kreativitas dan selanjutnya berkembangnya sesuatu kreasi yang diciptakan oleh seorang individu tidak dapat luput dari pengaruh kebudayaan serta pengaruh masyarakat tempat individu itu hidup dan bekerja.

Sementara itu, Arieti (1976) mengemukakan adanya sembilan faktor sosiokultural yang menunjang kreativitas, yaitu: 1) tersedianya sarana kebudayaan, 2) keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan, 3) penekanan pada “becoming” (menjadi tumbuh), tidak hanya pada “being” (sekedar berada), 4) pemberian kesempatan kepada semua warga negara tanpa diskriminasi, 5) adanya kebebasan setelah pengalaman tekanan dan tindasan yang keras, 6) keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan yang berbeda, bahkan yang kontraspun, 7) toleransi dan minat terhadap pandangan yang divergen, 8) ada interaksi antarpribadi yang berarti, 9) adanya insentif, penghargaan, atau hadiah.

Masyarakat dapat menyediakan berbagai kemudahan, sarana dan prasarana untuk menumbuhkembangkan daya cipta anggotanya. Namun, dorongan eksternal saja tidak cukup, karena pada akhirnya semua kembali pada bagaimana individu itu sendiri: sejauh mana ia merasakan kebutuhan dan dorongan untuk bersibuk diri secara kreatif, suatu pengikatan untuk melibatkan diri dalam suatu kegiatan kreatif, yang pada hakikatnya hal ini merupakan dorongan internal (Utami Munandar, 1988).

Lebih jauh Rogers (1970) menyatakan bahwa kreativitastumbuh karena adanya dorongan dari dalam diri individu (internal press) berupa: 1) keterbukaan terhadap pengalaman, 2) kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi, dan 3) kemampuan untuk bereksperiman, untuk bermain dengan konsep-konsep.

Dengan demikian, kreativitas agar dapat berkembang memerlukan pula “pendorong”, yaitu kondisi yang mendorong seseorang ke perilaku kreatif. Pendorong ini harus datang dari diri sendiri (internal) berupa hasrat dan motivasi yang kuat untuk mencipta, dan pendorong dari luar (eksternal) baik dari lingkungan dekat seperti teman sejawat maupun dari lingkungan makro seperti masyarakat dan kebudayaan di mana ia tinggal.

Dimensi Produk
Kreativitas sebagai suatu “produk”, yaitu kreativitas sebagai kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru (orisinil), baik berupa benda maupun gagasan (Saphiro, 1970). Dari segi produk, kreativitas mengacu pada hasil perbuatan, kinerja, atau karya individu dalam bentuk barang atau gagasan. Ditegaskannya bahwa produk kreatif sebagai “kriteria puncak” (the ultimate criteria) karena produk merupakan hal yang paling eksplisit dalam menentukan kreativitas seseorang.

Sementara itu, Amabile (1983) mempersyaratkan adanya dua kriteria kreativitas, yaitu: 1) ke”baru”an (novelty) dan 2) ke”sesuai”an (appropriateness). Kebaruan mengandung unsur adanya perbedaan dari segala sesuatu yang telah ada, sedangkan kesesuaian mengacu pada kebermaknaan bagi kehidupan. Jadi kreativitas menekankan pada penciptaan sesuatu yang baru dan bermakna bagi kehidupan. Rogers (1970) mengemukakan bahwa kriteria produk kreatif: 1) produk itu harus nyata atau dapat diamati, 2) produk itu harus baru, dan 3) produk tersebut merupakan hasil dari kualitas unik individu dalam interaksi dengan lingkungannya.

Sejalan dengan hal-hal di atas, Campbell (1992) menyatakan bahwa ditinjau dari segi produk, kreativitas merupakan kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya: 1) baru (novel), 2) berguna (useful), dan 3) dapat dimengerti (understandable). Baru, dimaksudkan inovatif dan belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, dan mengejutkan. Berguna, maksudnya adalah lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, dan mendatangkan hasil lebih baik/banyak.

Selanjutnya, dapat dimengerti dimaksudkan hasil yang sama dapat dibuat di lain waktu. Peristiwa-peristiwa yang terjadi begitu saja (secara tidak terduga), tidak dapat dimengerti, tidak dapat diramalkan, tidak dapat diulangi. Meskipun mungkin baru dan sangat berguna tetapi lebih merupakan hasil keberuntungan (luck), berarti bukan kreativitas.

Dengan demikian, setelah dikaji dari segi pribadi, proses, pendorong, dan produk dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan yang mencerminkan kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), dan kemampuan mengelaborasi (elaboration), serta merumuskan kembali (redefinition) suatu gagasan (Widyastono, 1998).

Strategi Pembelajaran
Briggs (1977) menyatakan bahwa strategi pembelajaran selain untuk menentukan urutan pembelajaran setiap tujuan pembelajaran, juga merancang tindakan-tindakan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Strategi pembelajaran terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran tertentu (Dick dan Carey, 1985).

Di dalam strategi pembelajaran terkandung sekurang-kurangnya lima komponen utama, yaitu: 1) kegiatan pra-pengajaran, 2) penyajian informasi, 3) peran serta peserta didik, 4) pengujian, dan 5) kegiatan tindak lanjut (Dick dan Carey, 1985). Selanjutnya, penjabaran komponen tersebut di atas sebagai berikut.

Kegiatan pra-pengajaran, dilakukan sebelum memulai pembelajaran formal, terdapat sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan. Pertama, tingkat motivasi peserta didik yang akan menerima bahan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk mengetahui apa yang menjadikan peserta didik tertarik dan apa yang membuat ia tidak suka. Kedua, petunjuk tentang apa yang peserta didik akan mampu lakukan bilamana mereka sudah menyelesaikan pembelajaran. Ketiga, memberitahu peserta didik tentang keterampilan prasyarat yang diperlukan untuk pembelajaran yang akan diberikan.

Penyajian informasi, dimulai dari kapabilitas bawah berlanjut ke komponen pokok berikutnya. Sesudah ditentukan bahan keterangan yang akan disajikan maka dilanjutkan dengan menentukan secara pasti informasi yang perlu disajikan kepada peserta didik. Perlu juga diberikan contoh bagi tiap konsep yang disajikan.

Peran serta peserta didik, yang paling besar pengaruhnya dalam proses belajar mengajar adalah latihan dengan pemberian balikan, yang berarti peserta didik diberi tahu apakah jawabannya benar atau salah.
Pengujian, terdapat empat macam tes acuan patokan yang dapat digunakan, yaitu: tes tingkah laku masukan, pre-tes, tes sambil jalan (sisipan), dan post-tes (evaluasi formmatif).

Kegiatan tindak lanjut, merupakan bagian dari strategi tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik sebagai hasil dari prestasi yang diperolehnya pada post-tes (evaluasi formatif). Apakah diperlukan penyediaan bahan remediasi yang terpisah bagi peserta didik, atau bahan pengayaan, atau saran tentang kegiatan berikutnya yang dapat diikuti oleh peserta didik.

Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran berkenaan dengan pendekatan pengelolaan kegiatan pembelajaran untuk menyampaikan materi atau isi pelajaran secara sistematik, sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik secara efektif dan efisien.

Urutan kegiatan pembelajaran terdiri atas: 1) Pendahuluan, 2) Penyajian atau Kegiatan Inti, dan 3) Penutup. Pendahuluan merupakan kegiatan awal dari kegiatan pembelajaran. Dick dan Carey (1985) menyebutnya dengan istilah pre-instructional activities, sedangkan di Indonesia dulu sering disebut dengan istilah apersepsi.

Kegiatan awal ini dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik agar secara mental siap mempelajari pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru. Seorang pengajar yang baik tidak akan secara mendadak mengajak peserta didik untuk membahas topik hari ini, misalnya “Perkembangbiakan Tanaman”, manakala saat mereka sedang seru-serunya diskusi tentang”bahaya narkoba”. Pengajar itu harus bersedia menggunakan waktunya sejenak untuk ikut bersama mereka membicarakan bahaya narkoba, kemudian secara pelan-pelan membawa pembicaraan tersebut kepada topik pelajaran hari itu.

Setelah itu, pengajar yang baik akan berusaha meningkatkan motivasi peserta didik untuk mempelajari materi pelajaran baru sebelum ia mengajarkannya, dengan cara menjelaskan apa manfaat pelajaran tersebut bagi kehidupan peserta didik atau bagi pelajaran lanjutannya di kemudian hari.

Fungsi Pendahuluan ini akan tercermin dalam langkah-langkah yang dijelaskan sebagai berikut:

a) Penjelasan Singkat Tentang Isi Pelajaran, pada babak permulaan pelajaran, peserta didik ingin segera mengetahui apa yang akan dipelajarinya pada pertemuan saat itu. Keingintahuan ini akan terpenuhi bila pengajar menjelaskannya secara singkat. Dengan demikian, pada permulaan kegiatan belajarnya peserta didik telah mendapat gambaran secara global tentang isi pelajaran yang akan dipelajarinya;

b) Penjelasan Relevansi Isi pelajaran Baru, peserta didik akan lebih cepat mempelajari sesuatu yang baru bila sesuatu yang akan dipelajarinya itu dikaitkan dengan sesuatu yang telah diketahuinya atau dengan sesuatu yang biasa dilakukannya sehari-hari. Karena itu, pada tahap permulaan kegiatan pembelajaran peserta didik perlu diberi penjelasan mengenai relevansi atau keterkaitan isi pelajaran yang akan dipelajarinya dengan pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang telah dikuasainya, atau relevansinya dengan kehidupan sehari-harinya;

c) Penjelasan Kompetensi Peserta didik yang ingin dicapai. Peserta didik, akan belajar dengan lebih cepat bila ia mendapatkan tanda-tanda yang mengarahkan proses belajarnya. Tanda-tanda tersebut antara lain berupa penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai. Dengan tanda-tanda tersebut ia mempunyai kemungkinan mengorganisasikan atau mengatur sendiri proses belajarnya dengan menggunakan sumber-sumber yang ada di lingkungannya. Di samping itu, pengetahuannya tentang kompetensi yang ingin dicapai tersebut akan meningkatkan motivasinya selama proses belajarnya. Oleh karena itu, pengajar perlu menjelaskan kepada peserta didik tentang kompetensi yang ingin dicapai sebelum memulai kegiatan pembelajaran sesungguhnya.

Dengan selesainya ketiga kegiatan pendahuluan tersebut, peserta didik telah mempunyai gambaran global tentang isi pelajaran yang akan dipelajarinya, kaitannya dengan kehidupannya sehari-hari, bermotivasi tinggi untuk mempelajarinya, dan mungkin dapat mengorganisasikan kegiatan belajarnya sebaik-baiknya. Waktu yang dibutuhkan untuk ketiga kegiatan tersebut mungkin hanya sekitar 5-10 menit dari 90 menit waktu yang tersedia, tetapi manfaatnya sangat besar untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi belajar peserta didik.

Setelah selesai kegiatan Pendahuluan, pengajar mulai memasuki kegiatan Penyajian atau sering disebut dengan istilah kegiatan Inti. Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikhologis peserta didik.

Kegiatan ini menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat berupa kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
1) melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dari berbagai sumber belajar;
2) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar;
3) memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
4) melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
5) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

Dalam kegiatan elaborasi, guru antara lain:
1) memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan, baik secara lisan maupun tertulis, yang dapat dilakukan secara individual maupun kelompok;
2) memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik;
3) memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerjanya, baik secara individual maupun kelompok;
4) memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, atau festival produk yang dihasilkan.

Dalam proses kreativitas, kegiatan eksplorasi dan elaborasi ini identik dengan tahap persiapan, inkubasi, dan iluminasi. Tahap persiapan ialah tahap pengumpulan informasi atau data yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Tahap inkubasi ialah tahap pengendapan dalam alam bawah sadar, pencarian inspirasi. Tahap iluminasi ialah tahap penemuan “….. aha …..” yang bersifat insight, gagasan pemecahan, dan modifikasi untuk melihat kecocokannya.

Dalam kegiatan konfirmasi, guru antara lain:
1) memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber belajar;
2) memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan;
3) memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar;
4) memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik.
Dalam proses kreativitas, kegiatan konfirmasi identik dengan tahap verivikasi, yaitu tahap pengetesan pemecahan dan modifikasi untuk melihat kesesuaiannya.

Dalam kegiatan Penutup, guru antara lain: 1) melakukan evaluasi formatif terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; 2) memberikan umpan balik terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; 3) merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, pengayaan, dan/atau memberikan tugas terstruktur maupun kegiatan mandiri tidak terstruktur kepada para peserta didik. Sebagai contoh kegiatan proses pembelajaran seperti diuraikan di atas, akan dijelaskan proses pembelajaran perkembangbiakan tumbuhan adenium pada pelajaran biologi.

Secara diagramatis, proses pembelajaran yang terdiri atas kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup dapat dilihat di bawah ini.

Pendahuluan
Penjelasan singkat tentang isi pelajaran yang akan dibahas. Guru mendiskusikan berbagai cara perkembangbiakan adenium, misalnya melalui: biji, stek, cangkok, dan okulasi.

Penjelasan relevansi isi pelajaran baru (yang akan dibahas) dengan kehidupan sehari-hari anak.Guru menjelaskan bahwa setiap makhluk hidup dapat tumbuh dan berkembangbiak agar tidak punah. Masing-masing makhluk hidup memiliki berbagai cara perkembangbiakan. Bila dipelihara dengan baik, makhluk hidup (manusia, hewan, dan tumbuhan) akan tumbuh dan berkembangbiak dengan baik; demikian pula sebaliknya.

Penjelasan kompetensi peserta didik yang ingin dicapai. Guru menjelaskan kompetensi peserta didik yang ingin dicapai. Misalnya: setelah mengikuti materi perkembangbiakan adenium, diharapkan peserta didik memahami dan mampu mempraktikkan berbagai cara perkembangbiakan adenium.

Kegiatan Inti
Ekplorasi. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing berjumlah sekitar 5 orang. Selanjutnya, masing-masing kelompok diberi tugas untuk bereksplorasi, dengan cara mencari dari berbagai sumber belajar (misalnya melalui buku, internet, maupun lainnya) tentang cara-cara perkembangbiakan adenium.

Bila sudah ditemukan jawabannya, misalnya diperoleh informasi bahwa perkembangbiakan adenium dapat dilakukan dengan empat cara, yaitu: 1) biji, 2) stek, 3) cangkok, dan 4) okulasi, maka selanjutnya peserta didik diberi tugas untuk mempraktikkan (praktikum) ke empat cara tersebut.

Elaborasi. Setelah masing-masing peserta didik mampu melakukannya, kemudian masing-masing kelompok diminta untuk menyusun laporan dan mempresentasikannya, yang difasilitasi oleh guru.

Konfirmasi. Bila laporan telah disusun, kemudian masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikannya, difasilitasi oleh guru.

Dengan cara-cara demikian, maka kreativitas anak akan tumbuh dan berkembang optimal, yang pada akhirnya peserta didik akan memiliki kecakapan hidup (life skill), meliputi (1) kecakapan akademik, (2) kecakapan pribadi, (3) kecakapan sosial, dan (4) kecakapan vokasional.

Melalui praktikum, pengetahuan yang diperoleh peserta didik tidak akan mudah terlupakan, sehingga kecakapan akademik akan tercapai; melalui presentasi di depan kelas, pribadi anak akan tumbuh dengan baik, terbiasa menghadapi orang banyak, sehingga kecakapan pribadi akan diperolehnya; melalui kerja kelompok, peserta didik akan terbiasa bersosialisasi dengan teman-temannya, sehingga kecakapan sosialnya akan tumbuh dan berkembang dengan baik; selanjutnya, apabila pengembangbiakan adenium ini dilakukan dan ditekuni dengan baik di rumah, maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi mata pencaharian tambahan yang menarik, sehingga kecakapan vokasionalnyapun akan tumbuh dan berkembang baik, yang pada akhirnya peserta didik akan berkembang jiwa “kewirausahaan” nya, yang pada gilirannya akan menumbuhkan ekonomi kreatif.

Penutup (Evaluasi)
Guru melakukan evaluasi formatif terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
Secara sampling, guru mengajukan pertanyaan secara lisan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan rata-rata. Bila bisa menjawab, selanjutnya guru mengajukan 1 pertanyaan secara lisan yang bobotnya relatif sama dengan pertanyaan terdahulu kepada peserta yang paling lemah. Bila yang paling lemah mampu menjawabnya, maka dapat diasumsikan daya serap anak sudah mencapai 100%.

Guru memberikan umpan balik terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
Hasil evaluasi formatif harus diberitahukan kepada siswa dan diikuti dengan penjelasan tentang hasil kemajuan siswa.

Guru merencanakan kegiatan tindak lanjut.
Siswa yang telah mencapai hasil baik dalam evaluasi formatif dapat meneruskan ke bagian pelajaran berikutnya, atau mempelajari bahan tambahan untuk memperdalam pengetahuan yang telah dipelajarinya.
Siswa yang mendapatkan hasil kurang harus mengulang isi pelajaran tersebut (remedi).

Simpulan dan Saran
Simpulan
Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan hal-hal berikut. Ditinjau dari dimensi pribadi, kreativitas dimiliki oleh setiap pribadi (orang) yang lahir di dunia. Ditinjau dari dimensi proses, kreativitas dapat tumbuh dan berkembang merupakan hasil dari proses interaksi antara faktor-faktor psikologis (internal) dan lingkungan (eksternal). Ditinjau dari dimensi pendorong, kreativitas dapat berkembang optimal perlu pendorong, yaitu kondisi yang mendorong seseorang ke perilaku kreatif. Pendorong harus datang dari diri sendiri (internal) berupa hasrat dan motivasi yang kuat untuk mencipta, dan mendapat dukungan atau pendorong dari luar (eksternal) baik dari lingkungan dekat seperti teman sejawat maupun dari lingkungan makro seperti masyarakat dan kebudayaan di mana ia tinggal. Ditinjau dari dimensi produk, kreativitas merupakan kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang: 1) baru (novel), 2) berguna (useful), dan 3) dapat dimengerti (understandable), baik berupa benda maupun gagasan.
Pada umumnya proses pembelajaran di sekolah kurang mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir divergen dan memecahkan masalah secara kreatif, tetapi cenderung lebih menekankan pada pengembangan berpikir logis dan konvergen dengan melatih peserta didik untuk berpikir dan menemukan suatu pengetahuan yang sudah ditetapkan oleh guru. Hal ini terjadi, salah satu alasan yang dikemukakan adalah karena kurikulum (standar isi) dianggap terlalu sarat beban.
Kreativitas peserta didik dapat dikembangkan melalui pembelajaran.

Proses pembelajaran pada hakikatnya terdiri atas kegiatan: 1) pendahuluan (apersepsi); 2) penyajian (kegiatan isi); dan 3) penutup. Kegiatan pendahuluan, sekurang-kurangnya meliputi: (a) penjelasan singkat tentang isi pelajaran yang akan dibahas, (b) penjelasan relevansi isi pelajaran baru (yang akan dibahas)

dengan kehidupan sehari-hari anak, dan (c) penjelasan kompetensi peserta didik yang ingin dicapai. Kegiatan penyajian (kegiatan inti), sekurang-kurangnya meliputi proses: (a) ekplorasi, (b) elaborasi, dan (c) konfirmasi. Kegiatan penutup, sekurang-kurangnya guru: (1) melakukan evaluasi formatif terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; (2) memberikan umpan balik terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; (3) merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, pengayaan, dan/atau memberikan tugas terstruktur maupun kegiatan mandiri tidak terstruktur kepada para peserta didik.

Saran
Berdasarkan simpulan di atas, dirumuskan rekomendasi berikut. Pertama, dalam mengembangkan kreativitas peserta didik agar selalu mengacu pada konsep “4 P” yaitu dimensi pribadi, proses, pendorong, dan produk. Kedua, proses pembelajaran agar dapat berlangsung secara efektif serta tercipta lingkungan belajar yang mendorong peserta didik menjadi kreatif maka guru perlu toleran, menghargai, dan membiasakan terhadap pemikiran peserta didik yang divergen, menjajagi macam-macam alternatif jawaban terhadap suatu persoalan. Proses pembelajaran hendaknya lebih menekankan pada pengembangan pemikiran divergen. Misalnya dalam memberikan soal latihan matematika, bentuknya:

10 = … + …, bukan 5 + 5 = …

Ketiga, perlu dilakukan evaluasi dan penyempurnaan standar isi pendidikan dasar dan pendidikan menengah agar tidak sarat beban, karena guru merasa standar isi pendidikan dasar dan pendidikan menengah terlalu sarat beban sehingga tidak cukup waktu untuk mengembangkan kreativitas peserta didik.

Keempat, perlu disusun model-model bahan ajar dan model-model proses pembelajaran yang dapat mengembangkan kreativitas peserta didik dalam rangka mencapai kompetensi yang diharapkan. Model-model bahan ajar diharapkan dapat digunakan oleh para guru sebagai contoh (panduan) dalam menyusun bahan ajar lainnya. Model-model proses pembelajaran diharapkan dapat digunakan oleh para guru sebagai contoh (panduan) dalam merencanakan proses pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, dan menilai hasil pembelajaran. Penyusunan bahan ajar dan proses pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, serta kemampuan awal dan karakteristik peserta didik.

Pustaka Acuan
Alfian. 1983. Kreativitas dalam Perdebatan. Dian Rakyat, Jakarta.
Amabile, Teresa M. 1983. Growing Up Creative Nurturing a Life Time of Creativity, Crown Publisher, Inc. New York.
Arieti, Silvano. 1976. Creativity, the Magic Synthesis. Basic Books, New York.
Briggs, Leslie J. 1977. Instructional Designs, Principles and Aplications. New Jersey: Educational Technology Publications.
Campbell, David. 1992. Take the Road to Creativity and Get of Your Dead End (terjemahan Sadman Mangunhardjana). Kanisius, Yogyakarta.
Clark, Barbara. 1983. Growing up Gifted. Ohio: Charles E. Merril.
Dick, Walter & Lou Carey. 1985. The Systematic Design of Instructions. Scott, Foresman and Company. London.
Hurlock, E.B. 1972. Child Development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha.
Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif.
Munandar, S.C. Utami. 1988. Kreativitas Sepanjang Masa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Rogers, Carl R. 1970. Towards a Theory of Creativity. Penguin, England.
Saphiro, R.J. 1970. The Criterion Problem. Penguin, England.
Semiawan, Conny R., A.S. Munandar, dan S.C. Utami Munandar. 1984. Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah. Jakarta: P.T. Gramedia.
Sumardjan, Selo. 1983. Kreativitas, Suatu Tinjauan dari Sudut Sosiologi. Dian Rakyat, Jakarta.
Urban, Klaus K. 1996. Encouraging and Nurturing Creativity in School and Workplace: Optimizing Excellence in Human Resource Development – Keynotes Fourth Asia Pasific Conference on Giftedness. Jakarta: Organizing Committee The 4th Asia Pacific Conference on Giftedness.
Vicencio, Evelina M. 1992. Creativity Teaching in Science and Health: Effect on Pupil Creativity and Achievement, Phillipine Social Science Council, Social Science Information, January – March.

Sumber: http://www.depdiknas.go.id/publikasi/balitbang/06_2009/j06_01.pdf

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.