Belajar dari Kang Asep Berawal Dari Keterpurukan

Oleh Luqman Hakim Arifin,

http://luqmanhakimarifin.blogspot.com/2008/08/belajar-dari-kang-asep.html

Pukul 21.00 WIB di rumah makan “Sederhana” di kawasan Casablanca, Jakarta. Suasana cukup ramai. Pelayan hilir mudik seiring pelanggan yang terus datang silih berganti. Tapi ada satu orang laki-laki yang sejak sore nongkrong di rumah makan Padang itu. Ia tampak sibuk ngobrol dengan para kolega bisnis dan kawan-kawan lamanya. Sesekali ia tertawa. Orangnya kalem dan sederhana. Ia datang dari Dusun Karang Cegak, Desa Cidahu, sekitar 7 kilometer dari kota Subang, Jawa Barat. Namanya Asep Sulaiman Sabanda.

Dari segi penampilan, “Pak Haji”, demikian Asep biasa dipanggil di desanya, tergolong biasa-biasa saja. Dengan kulit sawo matong dan tinggi 165 cm, penampilan Asep malah sering terlihat terlalu biasa untuk ukuran seorang pengusaha sukses. Pernah ketika saya mewawancarainya di kantornya yang sederhana di Subang, Asep hanya memakai sepatu-sandal “Oakley” yang sudah bulukan. Saya tidak yakin barang itu asli. Tapi ia tampak enjoy saja.

Namun begitu, dilihat apa yang telah ia lakukan, prestasi Asep di dunia usaha sebenarnya jauh dari biasa. Di usia yang relatif masih muda, 30 tahun, bapak tiga anak itu sudah memiliki sebuah kelompok bisnis yang cukup besar: “Santika Group”. Total omsetnyamencapai Rp 200 milyar/tahun. Pernah dalam satu hari di tahun 2004, dari bisnis ayam broilernya, Asep meraup keuntungan hingga Rp 600 juta!

Ada enam perusahaan di bawah bendera Santika Group ini. Pertama, PT. Santika Duta Nusantara. Perusahaan ini bergerak di bisnis budidaya dan penjualan ayam broiler yang merupakan core business Asep sejak tahun 1998. Per siklusnya (kurang lebih dua bulan), Asep bisa menghasilkan 2 juta ekor ayam atau rata-rata 1,1 juta ayam per bulannya.

Produksi sebanyak itu bisa dihasilkan karena Asep menerapkan sistem kandang terbuka (open house) dan kandang tertutup (closed house). Saat ini Asep memiliki kandang di tujuh lokasi di atas tanah seluas ± 32 Ha, dua di antaranya menerapkan closed house system. Salah satunya bahkan full automatic dengan kapasitas produksi per siklus sebanyak 700 ribu ekor.

Kandang ini terhitung luas, bahkan untuk ukuran Asia Tenggara sekalipun. Menurut rencana, lahan seluas itu akan dirancang untuk kapasitas produksi per siklus hingga 3,4 juta ekor ayam.

Menurut Asep, sistem closed house ini dipilih karena sangat efektif, efisien dan bersih. Fasilitasnya modern dan serba otomatis. Mulai dari pemberian pakan, air minum hingga kontrol suhu dan kelembaban kandang. Satu tenaga kerja bisa menanggani 30.000 ekor ayam.

Dan yang lebih penting, sistem closed house dapat meminimalisasi interaksi manusia dengan ayam. Manusia hanya berinteraksi di awal, ketika anak-anak ayam dimasukkan ke kandang, dan pada saat panen, sehingga menghindari penyebaran penyakit.

Saya pernah diizinkan masuk ke salah kandang closed house di Subang, dan memang terasa safety dan hiegenis. Sebelum dan sesudah masuk kawasan kandang, mobil kita disemprot disinfektan. Begitu juga ketika saya masuk dan keluar kandang, badan saya kembali disemprot.

Asep menerapkan sistem “inti plasma”. Inilah kunci dan rahasia bisnisnya. Asep membawahi 600 peternak plasma yang tersebar di Subang, Purwakarta, Indramayu, Sumedang, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Mojokerto, Malang, dan sekitarnya.

Tugas Asep sebagai pengusaha inti adalah menyediakan bibit, pakan, obat-obatan dan pembinaan teknis. Ia juga bertanggung jawab untuk pemasaran dan pembagian hasil penjualan ayam. Menurut Asep, sistem ini solusi yang tepat untuk mengatasi problem kesenjangan ekonomi dan pengangguran.

Setelah mantap di sektor produksi dan pasar ayam, masih di bawah payung PT Santika Duta Nusatara, Asep lalu merambah ke industri hulu dengan memproduksi pakan sendiri. Ia menamakannya “SantikaFeed Diamond”. Anda bisa memilih jenis pakan ayam dari umur 1-10 hari; 11-22 hari dan 23-35 hari. Bukan hanya untuk ayam broiler, Asep juga menyediakan pakan untuk ikan dan udang.

Santika Duta Nusantara disokong dua perusahaan lain yang terkait. Pertama, PT Santika Plastindo Utama dan PT Metrovet Anugerah Lestari. Yang pertama bergerak di bidang peralatan peternakan, plastik, dan kontruksi. Sedang yang kedua, bergerak di bidang obat hewan ternak. Produknya tidak hanya dijual kepada plasma sendiri, tapi juga ke peternak umum.

Asep juga merambah bisnis travel dan haji, serta jual beli mobil dan alat berat. PT Santika Berlian Motor bergerak di penjualan dan rental mobil dan alat-alat berat. Sedang PT. Aufa Duta Wisata bergerak di bisnir travel dan haji. Baru-baru ini Asep membeli ruko di daerah Tebet, Jakarta Selatan, seharga Rp 1,75 milyar.

Perusahaan yang keenam Asep berada di Brunai Darussalam. Namanya Al-Aliim Santika Sdn., Bhd. Perusahaan ini bergerak di biang peternakan ayam, trading, dan konstruksi, dan di sini Asep menanamkan sahamnya.

Untuk soal Corporate Social Responsibility-nya, Asep mendirikan Yayasan Al-Ihyaa’. Yayasan ini baru memiliki sekolah Taman Kanak-Kanak dan Madrasah, tapi semua biayanya digratiskan. Untuk alokasi kegiatan sosial, Asep mengambil kurang lebih 5 % dari total keuntungan perusahaannya.

Atas kerja kerasnya itu, tidak mengherankan jika pada akhir November 2006 lau, Asep dianugerahi penghargaan “Young Entrepreneur of the Year 2006” dari Ernst & Young. Ia juga masuk finalis kategori Social Entrepreneur. Namun begitu, alasan mengapa ia terpilih sebagai Entrepreneur of the Month majalah ini bukan sekadar itu. Bagaimana ia bangkit dari keterpurukan bisnisnya adalah alasan lain yang tak kalah penting dan menariknya.

***

Jejak langkah Asep mencapai puncak-puncak bisnisnya bukan jalan yang pendek dan mudah. Ia merintisnya sejak 16 tahun lalu ketika umurnya baru 14 tahun. Sejak duduk di kelas III Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur (setara kelas 3 SLTP), Asep sudah bercita-cita menjadi seorang konglomerat sukses. Waktu itu ia sudah keranjingan membaca berbagai macam buku dan ulasan bisnis di Jawa Pos, terutama tulisan Hermawan Kertajaya yang merupakan penulis favoritnya.

“Ketika umur 14 tahun, saya sudah mengetahui tentang strategi marketing, branding, dan deferensiasi. Saya mendapatkan pengetahuan itu dari bacaan. Saya juga membaca kisah-kisah sukses Donald Trumph, Rockefeller, dan konglemerat-konglemerat lokal, seperti Eka Tjipta Widjaja dan Liem Sioe Liong,“ kenangnya.

Bagi Asep, menjadi entrepreneur adalah pilihan hidup. Berpedoman bahwa tujuan hidupnya menjadi “orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”, Asep melihat entrepreneur adalah profesi yang memungkinkannya untuk mencapai tujuan hidup itu. “Saya merasa lebih menikmati berjuang dengan cara ini daripada cara lainnya. Ini sudah saya niati,” tegasnya.

Setelah lulus dari Gontor tahun 1995, Asep langsung tancap gas. Sementara teman-teman seangkatannya banyak memilih menjadi pengajar di pesantren-pesantren cabang Gontor, Asep lebih memilih belajar lagi di PLMPM (Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat)—semacam lembaga pelatihan entrepreneurship di bawah payung Pondok Modern Gontor. Di sini Asep memang hanya satu tahun. Tapi di sinilah ia mendapatkan, untuk pertama kalinya, berbagai macam teori dan praktek dalam berbisnis.

Asep misalnya, pernah tiga bulan berjualan gantungan kunci, gesper, dan kaos di emperan Jalan Malioboro, Yogyakarta. Terjun langsung mengembangkan sebuah bisnis merupakan salah satu bagian dari kurikulum PLMPM. Setelah digodok di lapangan, peserta pelatihan kembali ke kampus untuk dievaluasi.

Selesai dari PLMPM tahun 1996, Asep pulang kampung. Bapaknya, H. Shobur Tadjudin (almarhum), adalah peternak ayam binaan/plasma sejak tahun 1990. Ayamnya hanya 2.500 ekor. Dua tahun belajar dan membantu bapaknya, Asep baru benar-benar menekuni sendiri bisnis ayam broiler-nya tahun 1998. Mula-mula ia menyewa satu kandang ternak milik bapaknya dengan isi 10 ribu ekor ayam.

Pada fase pertama Asep untung sebesar Rp 10 juta—dengan dollar masih Rp2500,- Senang dengan keuntungan sebesar itu, di usia yang masih sangat belia, Asep memutuskan menyewa seluruh kandang bapaknya. Ada 5 kandang dengan 60 ribu ekor ayam. Harapannya ia bisa meraup untung Rp 60 juta. Tapi bukannya untung, Asep malah buntung Rp 70 juta!

Bukannya mundur, Asep malah melakukan hal yang lebih gila. Ia berasumsi, kalau ruginya besar, harus ditutup dengan untung yang lebih besar pula. Maka ia pun memelihara lebih banyak lagi ayam. Kali ini 80 ribu ekor. Ia kembali tekor, Rp 90 juta. Akhirnya, dalam enam bulan Asep merugi Rp 160 juta. Total, kata Asep, pada usia kurang dari 20 tahun ia sudah punya hutang Rp 180 juta!

Kata orang Arab, “Dainuhu aktsar min sinnihi” (Hutangnya lebih besar dari umurnya—red.). “Itu karena saya masih matematis dalam berbisnis. Kemampuan otak saya dan keinginan saya ada, tapi kemampuan spiritual dan mental saya belum,” tandas Asep.

Setelah peristiwa itu, bisnis ayam Asep langsung remuk. Ia bingung dan memilih lari dari persoalan. “Saya tiba-tiba menjadi pemuda yang tadinya tidak punya apa-apa, tapi karena angan-angan, punya banyak utang. Saya bingung saya melakukan apa. Saya kabur,” kenangnya.

Untuk menghindari kejaran para kreditor, setiap hari lelaki kelahiran 16 Januari 1977 itu cabut dari rumah di pagi hari dan pulang jam 10 malam. Untunglah ada sang bapak, H. Shobur Tadjudin. Inilah orang yang paling berpengaruh dalam hidup dan perjalanan bisnis Asep.

***

Melihat tingkah laku aneh Asep, pada suatu hari di bulan Agustus 1998, H. Shobur “menginterogasi” anaknya. “Mau kemana?” tanya H. Shobur suatu pagi. “Biasa, Pak, main,” jawab Asep pada waktu itu. Tapi dalam hati, Asep sadar kali ini ia tidak bisa mengindar.

Ia akhirnya mengaku. “Saya punya hutang, pak. Banyak. Nggak cukup kekayaan bapak untuk membayarnya,” Asep menegaskan.

Mendengar anaknya punya hutang Rp 180 juta, H. Shobur bukannya kaget atau marah. Ia justru berkata, “Segitu kamu bilang banyak.” Sebaliknya, Asep-lah yang malah kaget dengan respon bapaknya.

“Lho, pak, itu kan besar sekali. Kekayaan bapak bisa habis buat bayar utang saya,” tukas Asep.

“Buat bapak sih, itu betul,” kata H. Shobur,”Rp 180 juta sangat besar. Bapak mengumpulkan uang itu bertahun-tahun, tapi kamu menghabiskannya hanya dalam 6 bulan. Tapi dibanding masa depanmu, itu nggak ada artinya. Jangan kamu jual masa depanmu! Bahkan kalau semua kekayaan bapak ini habis, itu tetap tidak artinya dibanding masa depanmu.”

Jawaban sang bapak ini benar-benar membangkitkan kepercayaan diri Asep yang menancap hingga sekarang. Setelah peristiwa itu, Asep dibawa bapaknya untuk mempertanggungjawabkan utang-utangnya. Mereka menemui orang-orang yang selama ini mengejar-ngejar Asep.

Mereka kaget. Orang dicari susah, kok malah datang. Di situlah timbul kepercayaan diri saya. Meski akhirnya dari Rp 180 juta itu hanya Rp 11 juta yang dibayar bapak saya—sisanya saya bayar sendiri. Tapi kalau bapak saya tidak melakukan itu, tentu saya tidak bisa bangkit seperti saat ini,” ucap Asep.

Asep membayar utangnya dengan berbagai cara. Mulai dengan mencicil uang, membeli barang dari para kreditor dengan melebihkan harganya, sampai dengan menyewakan kandangnya sebagai kompensasi pembayaran utang. “Kalau harga ayam Rp 7000,- saya jual Rp 7200,- . Rp 100,- masuk ke kantong saya, dan Rp 100,- sisanya untuk bayar hutang. Itu setiap hari saya transaksi. Alhamdulillah selesai,” ujar Asep memberikan gambaran.

Nasehat bapaknya agar jangan menggadaikan masa depannya dengan uang Rp 180 juta terbukti pada suatu hari Senin di bulan Juni 2004. Asep benar-benar menangis haru. Hari itu ia mendapatkan keuntungan lebih dari Rp 600 juta dalam satu hari. “Baru saya tahu arti dari apa yang dikatakan bapak saya. Betul-betul tidak ada artinya Rp 180 juta itu,” ujarnya.

Jika H. Shobur Tajudin masih hidup, pastilah sekarang ia tersenyum senang melihat prestasi anak keduanya tersebut. Setelah melunasi utangnya tahun 2001, bisnis ayam Asep berkembang secara pesat. Setidaknya ada empat faktor yang mempercepat perkembangan bisnis ayam Asep.

Pertama, tentu saja, sistem kemitraan yang dipakai dimana Asep bertindak sebagai “inti plasma”. Sistem ini bukan saja meminimalkan investasi, tapi juga menciptakan mesin keuntungan yang terus menerus dan kuat bagi Asep. Selain membeli dan menjualkan ayam produksi para peternak plasma, Asep juga kebagian menyuplai pakan, bibit, dan obat-obatan kepada mereka.

“Kenapa saya bilang sistem ini solusi? Karena ayam itu fluktuatif. Kalau peternak main sendiri, lalu terjadi flu burung, dan harga ayam turun sampai Rp 1.800 per ekor. Padahal modalnya Rp 6.000,-. Maka ruginya hingga 73%. Bisnis apa itu ruginya sampai segitu?” tanya Asep.

Artinya, dengan memakai sistem intiplasma ini, sekalipun harga ayam anjlok, peternak plasma tetap tidak rugi. Pasalnya, ada harga kontrak atau harga rata-rata antara inti plasma dan plasma. “Kemitraan kami menerapkan transparansi. Insya Allah adil. Murah saya kebagian, mahal saya kebagian,” ujarnya.

Hampir setiap tahun peternak plasma terus bertambah. Tahun 2001 hanya 20 peternak yang ikut, tapi kini sudah mencapai 600 peternak plasma.

Faktor kedua meroketnya bisnis ayam Asep adalah blessing in disguise dari merebaknya kasus flu burung. Pada tahun 2004, ketika flu burung pertama kali diumumkan di Indonesia (25 Februari 2004), harga ayam jatuh, dan banyak peternak yang collaps alias tutup kandang. Asep pun menderita kerugian hingga Rp 1,8 milliar dalam waktu satu setengah bulan. Bedanya, jika yang lain tutup, Asep malah melakukan ekspansi.

Dari bulan Februari sampai Juni 2004, produksi ayam Asep naik tiga kali lipat dalam enam bulan. Hal ini karena marketnya pulih, tapi banyak peternak yang tidak lagi berternak. Akibatnya, terjadi booming kebutuhan ayam. Cerita Asep soal untung Rp 600 juta dalam sehari terjadi dengan latarbelakang ini.

Turunnya suntikan dana dari salah satu bank BUMN menjadi faktor ketiga yang menambah tenaga cepatnya pengembangan bisnis Asep. Sedang faktor keempat adalah faktor Asep sendiri. Sebagai entrepreneur, harus diakui, ia memiliki bakat, tekad dan kemampun yang tahan banting dalam menghadapi tantangan bisnisnya. Hal ini pernah diutarakan Ridho Zarkasyi, mentornya di PLMPM.

***

Namun demikian, Asep tampaknya belum akan selesai dengan pengembangan kerajaan bisnisnya. Setelah mantap di bisnis peternakan (ayam), Asep juga merambah ke sektor perdagangan umum, jasa kontruksi, transportasi, pelayanan umroh-haji, hingga rental dan jual beli kendaraan dan alat berat.

Baru-baru ini, Asep bahkan mengembangkan sayap bisnisnya ke agrobisnis. Ia mendapatkan proyek pengelolaan HTI (Hutan Tanaman Industri) di Tanah Laut, Kalimatan Selatan. Lahannya seluas ± 300.000 Ha, tapi yang dipakai hanya ± 2.500 Ha. Total proyeknya mencapai $ 6,5 juta.

Di usianya yang masih muda, masa depan bisnis Asep masih sangat terbuka dan panjang. Kekayaan bisnis Asep memang masih jauh dibandingkan pengusaha-pengusaha kakap, seperti Eka Tjipta Widjaja (85 tahun), Aksa Mahmud (61 tahun), atau bahkan Chairul Tanjung (44 tahun) sekalipun. Tapi bukan hal yang mustahil ia akan mengungguli mereka kelak.

Asep mempercayai filosofi bahwa orang yang lebih cepat memulai akan lebih cepat berkembang. “The pioneer never defeat”, katanya pada pengantar profil company-nya. Jadi, kalau saat ini saja Asep sudah menghasilkan omset sebesar Rp 200 milyar/tahun, dalam 10 tahun ke depan, bukan tidak mungkin kekayaan bisnisnya mencapai angka trilyunan rupiah.

Sampai di sini, pertanyaannya bukan mungkin atau tidak mungkin Asep mencapai trilyunan rupiah itu, tapi benarkah ke arah sana tujuan berbisnis Asep?

Kepada Be Entrepreneur, Asep menegaskan bahwa konsep bisnisnya berubah sejak ia menunaikan ibadah haji tahun 2001. Untuk mengukur keberhasilan hidup, menurut Asep, bukanlah dengan seberapa banyak (harta) yang kita dapatkan, tapi seberapa banyak kita bermanfaat untuk orang lain.

Pengalaman mengajarkan pada Asep bahwa bisnis yang hanya ditujukan untuk mencari keuntungan hanya akan menimbulkan kerugian dan keresahan hidup. “Konsep bisnis saya bukan lagi mencari untung, tapi menghindari kerugian,” tegas Asep. “…Kalau kita mendikte Allah, keminter, itu berarti akan menutup diri kita sendiri dari alternatif lain yang sebenarnya jauh lebih baik,” tambahnya.

***

Sekitar pukul 11.00 malam, masih di warung makan Padang “Sederhana”, Casablanca, Jakarta. Asep hendak balik ke Subang. Kepada kawan-kawan lamanya yang hendak mendirikan lembaga pendidikan, Asep menegaskan satu hal: Jangan kebanyakan wacana! Seribu langkah ke depan tetap dimulai dari langkah pertama….

Biodata Asep Sulaiman Sabanda

Lahir : Subang, 16 Januari 1977

Istri : Vina Nuriyanti

Anak : 3 orang

Pendidikan : Pondok Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur (1995)

Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat (PLMPM) Ngawi, Jawa Timur.(1996)

Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Subang (Tidak selesai)

Penghargaan : “Young Entrepreneur of the Year 2006 (Ernst & Young)

Diposkan oleh Luqman Hakim Arifin di 09:27

One thought on “Belajar dari Kang Asep Berawal Dari Keterpurukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s