Keberhasilan Jepang Mengelola Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ)

oleh Sutawi
Universitas Muhammadiyah Malang

Abstrak: Kemajuan Jepang yang cepat dan pesat disebabkan keberhasilan bangsa Jepang mengelola tiga kecerdasan bangsa, yaitu mengembangkan kecerdasan intelektual (develop the IQ), menumbuhkan kecerdasan emosional (growth the EQ), dan menanamkan kecerdasan spiritual (internalisation the SQ). Pengembangan kecerdasan intelektual bangsa Jepang dilakukan melalui sistem pendidikan yang konsisten dan bermutu. Penumbuhan kecerdasan emosional berlangsung secara mudah karena Jepang merupakan negara yang benar-benar “satu nusa”, “satu bangsa”, dan “satu bahasa”. Penananam kecerdasan spiritual sangat dipengaruhi oleh semangat Bushido yang sangat asketik, berdisiplin tinggi, dan menjunjung tinggi kode etik dan tata krama dalam kehidupan. Tradisi dan budaya Jepang yang sudah terbiasa dan turun-temurun menanamkan kecerdasan spriritual dengan metode Repetitive Magic Power (RMP), menjadikan Jepang sebagai bangsa yang memiliki kepribadian luhur.

Kata kunci: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual.

Pendahuluan
Jepang saat ini merupakan salah satu kekuatan besar dalam era globalisasi ekonomi, politik, dan budaya, selain Amerika Serikat dan Eropa Barat. Seperti halnya daur hidup produk (product life cycle) buatan Jepang, perjalanan pembangunan Jepang mencapai kekuatan global juga mengalami siklus, mulai tahap pengembangan, pengenalan, pertumbuhan, kematangan, kejenuhan, dan penurunan.

Tahap pengembangan pembangunan yang penting atas Jepang dimulai pada tahun 1603. Pada saat itu, Ieyasu yang telah berhasil menyatukan seluruh Jepang, membangun kekaisarannya di Edo (sekarang Tokyo). Hasil dari politik Ieyasu ini kemudian dimanfaatkan oleh Kekaisaran Tokugawa pada tahun 1639 dengan lahirnya Politik Isolasi.

Politik Isolasi bertahan lebih dari 200 tahun sampai pada tahun 1853, ketika Komodor Perry dari angkatan laut Amerika Serikat dengan 4 buah kapalnya memaksa Jepang untuk membuka diri kembali terhadap dunia luar (Kompas, 2005). Mulai saat itulah bangsa Jepang membuka diri terhadap globalisasi ekonomi. Dorongan modernisasi pada periode ini merupakan tahap pengenalan pembangunan Jepang.

Tahap pertumbuhan pembangunan dimulai ketika Kekaisaran Tokugawa berakhir pada tahun 1867, dan digantikan dengan Kekaisaran Meiji. Pada zaman ini Jepang banyak mengalami kemajuan, dan hanya dalam beberapa dekade mampu menyejajarkan diri dengan negara-negara barat. Pada akhir periode Restorasi Meiji Jepang telah mencapai tahap kematangan pembangunan.

Kaisar Meiji meninggal pada tahun 1912, dan dimulailah Kekaisaran Showa. Kekaisaran Showa ini dimulai dengan kondisi yang menjanjikan. Industri yang terus berkembang, dan kehidupan politik yang telah mengakar di parlemen-parlemen pemerintahan. Namun, masalah-masalah baru terus bermunculan.

Krisis ekonomi dunia menekan kehidupan rakyat, hingga pada akhirnya pecah Perang Pasifik pada tahun 1941. Inilah tanda-tanda kejenuhan pembangunan Jepang mulai terjadi. Akhirnya, Jepang memasuki tahap penurunan pembangunan pada tahun 1945, ketika Jepang menyerah pada sekutu akibat semakin melemahnya kekuatannya setelah Hiroshima dan Nagasaki dilumpuhkan.

Seperti halnya produk buatan Jepang, setelah memasuki tahap penurunan diperlukan kemampuan “create new and different” (membuat sesuatu baru dan berbeda) untuk membangun kekuatan baru. Pada awal kalah perang, pemulihan ekonomi Jepang berjalan lambat.

Dalam masa tidak lebih dari 10 tahun, dibantu dengan negara-negara luar, Jepang mampu tegak kembali dan bersaing di pasar internasional. Satu bukti dari kebangkitannya itu adalah dengan menjadi tuan rumah Olimpiade Tokyo 1964, dan pada 1975 Jepang sudah diakui menjadi negara maju dan masuk dalam kelompok negara G-7.

Dalam kurun waktu 25 tahun Jepang menjadi negara maju dan diperhitungkan di Asia bahkan di dunia.

Saat ini Jepang telah berada di puncak peradaban, rakyatnya sejahtera, tidak terjadi konflik di dalam negeri maupun dengan negara lain. Dalam bidang pendidikan, Jepang memberikan ribuan beasiswa dari berbagai negara. Dalam bidang industri, barang produksinya dipakai di seluruh dunia. Dalam bidang ekonomi, investasinya menyebar ke seluruh dunia. Dalam bidang sosial, besar sekali bantuannya pada negara berkembang dan negara miskin. Dalam dunia politik pun Jepang berperan penting dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Tulisan ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan keberhasilan Jepang mengelola kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ), sehingga dapat menjadi contoh negara di dunia yang adil makmur, yaitu negara yang adil dalam kemakmurannya, dan makmur dalam keadilannya.

Kajian Literatur : Kecerdasan Bangsa
Dewasa ini banyak pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia datang ke Jepang untuk menuntut ilmu. Pada umumnya mereka ingin mempelajari perekonomian Jepang yang maju pesat, juga berbagai pengetahuan dan teknologi. Mereka juga ingin mengetahui faktor yang membuat bangsa Jepang dapat mencapai perkembangan perekonomian seperti sekarang ini, dan mengapa perekonomian bangsa ini dapat masuk, menguasai dan memenangi persaingan dunia.

Banyak bangsa lain di dunia yang menilai bahwa kemajuan Jepang yang cepat dan pesat itu adalah akibat kecerdasan intelektual bangsa Jepang yang tinggi yang diperoleh dari sistem pendidikan yang bermutu.

Karena itu, banyak negara, termasuk Indonesia, berbondong-bondong mengirimkan pelajar, mahasiswa, dan pemudanya untuk magang dan menempuh pendidikan lanjutan di Jepang. Penilaian bahwa kemajuan Jepang akibat kecerdasan intelektual saja adalah bagaikan mengupas buah kelapa, tetapi hanya mendapat kulitnya, tanpa berusaha mengambil buah dan sarinya.

Karena itu, meskipun banyak negara telah mengirim ribuan generasi mudanya berlajar ke Jepang, belum ada satu pun dari negara itu yang mengalami kemajuan seperti bangsa Jepang.

Bangsa Jepang sendiri jarang sekali berbangga atas kecerdasan intelektualnya. Mereka menyadari bahwa setiap manusia, bahkan setiap bangsa, dapat mengembangkan kecerdasan intelektualnya melalui pendidikan dan pelatihan yang teratur.

Pendidikan yang hanya menciptakan kemampuan intelektual tanpa membangkitkan hati nurani akan menghasilkan manusia yang
rapuh dan jiwa yang hampa dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Pembaharuan bidang pendidikan di Jepang dijalankan secara bersamaan dengan upaya melestarikan nilai-nilai tradisional dan nilai-nilai keagamaan. Terbukti kemudian, Jepang menjadi bangsa yang bergerak jauh ke depan dengan tetap berakar pada budayanya sendiri.

Sejalan dengan pemikiran bangsa Jepang, Fatwa (2006) mengemukakan bahwa pendidikan harus memiliki “ruh” yang mengembangkan nilai-nilai bijak, dan mengarahkan pada kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient, IQ), kecerdasan emosional (Emosional Quotient, EQ), dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient, SQ). EQ dan SQ sangat berperan dalam menunjang keberhasilan seseorang dalam perjuangan hidupnya. Kearifan untuk mengendalikan emosi akan menunjang bekerjanya nalar dan intelektual.

EQ akan membangun motivasi, empati, kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain, sifat simpatik, solidaritas, dan interaksi sosial yang tinggi.

Sementara SQ akan membimbing suara hati yang jernih yang mengarah kepada nafsu luhur, berani menghadapi hidup dengan optimis, kreatif, fleksibel, dan visioner, serta memberikan kekuatan moral, memberikan kepastian jawaban tentang sesuatu yang baik dan buruk, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan dan lingkungannya.

Kesemuanya akan mewujudkan kemampuan mengubah hambatan menjadi peluang, dan ketahanan dalam menghadapi tantangan hidup, yang dikenal dengan istilah Adversity Quotient (AQ).

Dengan belajar pada pendidikan Jepang sejak jaman sejarah sampai sekarang, dapat diketahui bahwa kemajuan Jepang yang cepat dan pesat adalah akibat keberhasilan bangsa Jepang mengelola tiga kecerdasan manusia, yaitu mengembangkan kecerdasan intelektual (develop the IQ), menumbuhkan kecerdasan emosional (growth the EQ), dan menanamkan kecerdasan spiritual (internalisation the SQ).

Pengembangan Kecerdasan Intelektual

Proses pengembangan kecerdasan intelektual bangsa Jepang melalui pendidikan bisa dilacak sejak Restorasi Meiji (1852-1912), ketika para samurai yang berpikiran maju menghendaki Jepang yang modern. Setelah selesainya era Tokugawa yang penuh perang, Jepang mengalami masa damai selama 200 tahun.

Ketika memasuki era damai selama 200 tahun itu, para samurai mengabdikan diri sebagai guru. Mereka mendidik anak-anak orang kaya, terutama kasta pedagang, karena Jepang waktu itu masih mengenal kasta.

Kasta paling tinggi adalah samurai, kemudian kesatria, pedagang, petani, dan beberapa kasta lagi di bawahnya. Para samurai kebanyakan mendidik kasta pedagang, karena para pedagang ingin naik kasta.

Para samurai memang tidak hanya bisa perang, tapi juga tahu sastra, tata negara, hukum, dan lebih dari itu, bisa membaca huruf Kanji yang memang terkenal susah. Itulah yang menjadi modal Jepang untuk maju.

Hasil pendidikan para samurai adalah tingginya tingkat melek huruf orang Jepang di era Meiji yang mencapai 98%. Pada periode yang sama tingkat melek huruf Eropa ketika itu, paling tinggi masih sekitar 60-70% (Prasetyawan, 2006).

Jadi, ketika Jepang akan masuk proses industrialisasi sudah memiliki sumber daya manusia (human resource) yang trampil dan cukup terdidik. Mereka sudah siap untuk mentransformasi dirinya, tidak hanya mengubah pola pikir (mindset), tapi ikut dalam proses industralisasi.

Ketika memasuki era Kaisar Meiji pada pertengahan abad ke-18, bangsa Jepang sudah sadar bahwa untuk membangun bangsa menuju ke arah yang lebih baik, rakyat Jepang membutuhkan generasi yang lebih pandai. Karena itulah, pendidikan merupakan pilar utama yang harus ditegakkan sebelum melaju ke bidang-bidang yang lain.

Kaisar Meiji yang terkenal visioner menyadari bahwa kalau bangsa Jepang ingin maju, maka harus berpikir ala Eropa dan Amerika. Dimulailah proses reformasi yang disebut Restorasi Meiji itu dengan pendidikan sebagai mata tombak. Pendidikan menjadi hak dan kewajiban semua warga.Jepang pun pada masa itu kemudian menyusun gerakan Bummeikaika, atau gerakan memberadabkan bangsa Jepang.

Gerakan tersebut dilaksanakan dengan pembaharuan pendidikan, terutama mendorong bangsa Jepang untuk meninggalkan feodalisme dan mengedepankan logika. Sejak itu juga, Kaisar Meiji mulai mengirim tunas-tunas muda Jepang yang cerdas untuk belajar ke Eropa dan Amerika.

Untuk modernisasi angkatan laut, mereka belajar dari Inggris yang ketika itu punya armada laut paling kuat di dunia, sedangkan untuk belajar teknik mereka belajar ke Jerman.

Restorasi Jepang berjalan sangat cepat dan efisien mulai tahun 1853. Dengan menjadikan dirinya sebagai penyerap pola pikir dan cara hidup bangsa Barat, Jepang telah memilih langkah yang tepat untuk kemajuan bangsanya.

Dalam waktu kurang dari 100 tahun sejak Restorasi Meiji dimulai, Jepang telah menjadi negara dengan kekuatan ekonomi dan militer yang patut diperhitungkan di kawasan Asia bahkan dunia (Sucahyo, 2003).

Menjelang akhir abad ke-19 Jepang sudah berhasil menjadi kekuatan militer dengan angkatan laut yang sangat tangguh, sehingga dapat mengalahkan secara mutlak armada raksasa Rusia di Selat Tsushima, menyapu bersih kepulauan Sachalin, mengambil Korea dan Semenanjung Liau-Tung dari Rusia, serta Port Arthur dan Dairen.

Jepang yang sebelumnya tabu dalam soal politik dalam negeri, kemudian juga mengijinkan berdirinya Seiyukai Party (Partai Liberal) dan Minseito Party (Partai Progresif).

Setelah kekalahan Perang Dunia II, meski dengan anggaran belanja negara yang minim dan pas-pasan, Jepang mulai menerapkan strategi pendidikan dari SD sampai Universitas yang berstrategi, mengirim banyak orang-orang mudanya belajar ke negara lain.

Generasi manusia baru mereka saat itu juga bekerja keras 2.100 jam per tahun, sehingga pendapatan perkapita mereka meningkat dari sekitar 6 ribu yen tahun 1946 menjadi 200 ribu Yen tahun 60-an, selanjutnya menjadi 1 juta Yen tahun 1970.

Saat itu, mereka membelanjakan sekitar 20 persen uang negara pada bidang pendidikan dan sains, melakukan penelitian dengan mencetak banyak mahasiswa-mahasiwa master dan doktor.

Saat ini, wajib belajar 9 tahun dikenakan bagi anak berumur 6-15 tahun, dan 100% anak berusia tersebut pergi ke sekolah, 96% lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat atas, dan 45% lulusan sekolah lanjutan tingkat atas melanjutkan ke perguruan tinggi (Ghozali, 2001).

Di bidang penerbitan, karena generasi manusia mereka gemar membaca, sampai tahun 80-an mereka sudah sudah mencetak sekitar 1,2 trilliun copy buku, dan puncaknya tahun 1997 mencapai 1,5 trilliun copy.

Sirkulasi suratkabar generasi manusia Jepang tahun 2002 mencapai 70,8 juta copy dengan perbandingan 653 copy per 1000 penduduk, tertinggi di dunia, jauh melebihi Amerika yang 269 copy per 1000 penduduk.

Sekitar 70 juta dari 127 juta penduduk Jepang adalah pengguna internet, bandingkan dengan generasi manusia Indonesia yang hanya 2 persen (Humaniora, 2006).

Penumbuhan Kecerdasan Emosional
Penumbuhan kecerdasan emosional atau kesetiakawanan sosial di Jepang dapat berlangsung secara mudah, karena Jepang merupakan negara yang benar-benar “satu nusa”, “satu bangsa”, dan “satu bahasa”.

Hampir semua dari 127 juta penduduk Jepang adalah ras Mongoloid Asia, sehingga masyarakatnya relatif homogen. Bahasa Jepang merupakan bahasa nasional, dan digunakan di semua lembaga pendidikan.

Secara sosial-ekonomi, tidak terjadi kesenjangan yang tinggi dalam kekayaan, dan hampir semua orang Jepang dapat dikatakan berada dalam kelas menengah dengan pendapat rata-rata pekerja sekitar 7 juta yen (sekitar Rp 560 juta) per tahun.

Sebagian besar orang Jepang beragama Budha, sebagian lagi Shinto, dan sebagian kecil beragama Kristen. Jepang yang luasnya setara dengan luas pulau-pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara ini merupakan negara kepulauan berbentuk bulan sabit yang menjulur dari utara ke selatan di Asia Timur Jauh.

Negara tersebut tediri dari empat pulau utama (Honshu, Hokkaido, Kyusyu, dan Shikoku) dan sekitar 3000 pulau kecil. Jepang yang 70% wilayahnya berupa pegunungan, memiliki empat musim, yaitu panas, gugur, dingin, dan semi.

Potensi sumber daya alam Jepang sangat terbatas, karena kesuburan tanahnya hanya 12% yang dapat dipergunakan untuk pertanian. Pertanian merupakan sektor usaha orang Jepang sebelum sektor-sektor industri dan jasa berkembang dengan sangat pesat.

Keadaan alam yang sempit, kurang subur, dan adanya empat musim telah mempengaruhi tingkat laku bangsa Jepang. Menurut Fukumoto (1997) watak dan perangai orang Jepang yang rajin, terampil, gigih, tidak menyia-nyiakan waktu dan peluang, serta selalu berusaha mencapai keberhasilan pada hakikatnya ditempa dan dibentuk oleh sempitnya tanah dan adanya empat musim.

Suasana empat musim yang silih berganti mengajarkan kepada bangsa Jepang untuk dapat bertahan, mengatasi kesulitan, dan melakukan persiapan untuk musim berikutnya. Hal seperti itulah yang membuat mereka menjadi bangsa yang rajin dan gigih. Jika tidak, mereka akan sulit untuk menundukkan dan mengatasi keperkasaan alam.

Sejak ribuan tahun yang lalu, para petani dituntut untuk dapat memanfaatkan tanah yang sempit sehingga menghasilkan padi yang banyak, juga menjadi bangsa yang selalu berusaha. Kehidupan bertani juga mengajarkan kepada bangsa Jepang cara bergaul yang baik dengan orang lain.

Iklim yang berubah-ubah dan suasana masyarakat petanilah yang menyebabkan bangsa Jepang dapat berusaha dan hidup di luar negaranya. Selain itu, iklim empat musim mempengaruhi watak bangsa Jepang menjadi kreatif dan mampu membuat barang-barang berkualitas yang mudah dipasarkan ke seluruh dunia. Kesemuanya menjadi modal dasar bangsa Jepang dalam memenangi persaingan di era globalisasi ini.

Di mata negara-negara berkembang (developing countries), Jepang merupakan model dalam sukses ekonomi. Di antara negara-negara yang mengikuti Jepang dan muncul sebagai negara industri baru adalah empat macan kecil di Asia, yaitu Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura. Negara-negara ini memiliki latar belakang filsafat Kong Hu Chu yang sama dengan Jepang. Setelah negara-negara ini, kemudian muncul India, China, Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, dan Vietnam yang telah memperkuat diri sebagai negara industri baru. Negara-negara di belahan Asia Timur telah menjadi ajang perkembangan ekonomi yang dinamik di bawah pengaruh Jepang.

Namun demikian, sebagian besar negara-negara Asia tersebut sangat sulit menandingi kemajuan bangsa Jepang, karena kendala kecerdasan emosional atau kesetiakawanan sosial di negaranya. China, Korea Selatan, Taiwan, dan India menghadapi masalah kesenjangan sosial, konflik antar etnis atau antar negara.

Sementara Philipina dan Indonesia menghadapi masalah yang hampir sama. Meskipun kaya sumberdaya alam, di kedua negara itu sering terjadi konflik antar suku bangsa maupun agama.

Penanaman Kecerdasan Spiritual
Pendidikan yang dilakukan kasta samurai sejak era Tokugawa tidak saja mampu mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga berhasil menanamkan kecerdasan spiritual dan membentuk kepribadian bangsa Jepang.

Kedubes Jepang (2006) menjelaskan bahwa pada dasarnya kepribadian Jepang sangat dipengaruhi oleh semangat Bushido yang sangat asketik, berdisiplin tinggi, dan menjunjung tinggi kode etik dan tata krama dalam kehidupan.

Bushido adalah etika moral bagi kaum samurai. Berasal dari zaman Kamakura (1185-1333), terus berkembang mencapai zaman Edo (1603-1867), bushido menekankan kesetiaan, keadilan, rasa malu, tata-krama, kemurnian, kesederhanaan, semangat berperang, kehormatan, dan sebagainya.

Aspek spiritual sangat dominan dalam falsafah bushido. Meski memang menekankan “kemenangan terhadap pihak lawan”, hal itu tidaklah berarti menang dengan kekuatan fisik. Dalam semangat bushido, seorang samurai diharapkan menjalani pelatihan spiritual guna menaklukkan dirinya sendiri, karena dengan menaklukkan diri sendirilah orang baru dapat menaklukkan orang lain.Kekuatan timbul dari kemenangan dalam disiplin diri. Justru kekuatan yang diperoleh dengan cara inilah yang dapat menaklukkan sekaligus mengundang rasa hormat pihak-pihak lain, sebagai kemantapan spiritual. Perilaku yang halus dianggap merupakan aspek penting dalam mengungkapkan kekuatan spiritual.

Internalisasi kecerdasan spiritual bangsa Jepang dapat dilihat pada perusahaan-perusahaan Jepang, baik di dalam negeri maupun yang telah menyebar di seluruh belahan dunia.

Agustian (2006) mencatat 12 rahasia sukses Jepang yang menunjukkan betapa dalam kecerdasan spiritual bangsa Jepang.

Pertama, jujur. Ini terungkap pada pernyataan Makoto Kikuchi (direktur pusat penelitian Sony) yang mau mengakui kelebihan komputer “Apple” buatan Amerika.

Kedua, ingin dirinya bermanfaat. Ini ditunjukkan oleh Makoto dengan ambisinya membuat komputer yang mengerti bahasa Jepang, agar orang Jepang bisa berbicara dengan komputernya.

Ketiga, semangat mencipta. Makoto adalah ahli microprosessor, yang selalu ingin mencoba dan belajar. Semangatnya tertuang dalam mottonya, “Research Makes Difference”.

Keempat, empati dan kerjasama. Makoto sering makan bersama atasannya dan tetap mengenakan seragam yang sama dengan 35.000 karyawan perusahaan Sony lainnya.

Kelima, rendah hati. Inamori pemimpin Kyoto Ceramics tetap menganggap dirinya sebagai karyawan biasa.

Keenam, azas manfaat. “Setiap barang harus ada manfaatnya”, kata Inamori.

Ketujuh, berterima kasih. Suka memberi penghargaan kepada orang yang berjasa di Gamo, Pabrik Kyoto Ceramics.

Kedelapan, disiplin. Ini ditunjukkan di Gamo dengan disiplin ketentaraan dan kewajiban “upacara rutin” setiap pagi seluruh karyawan pabriknya.

Kesembilan, suka memberi. Mereka dengan suka hati memberikan gagasan demi kemajuan perusahaannya.

Kesepuluh, mau mendengar. Sebulan sekali mereka bertemu untuk bertukar pikiran.

Kesebelas, teliti. Hanya 0,1% hasil produksi Sony yang diafkir.

Kedua belas, kebersamaan yang kuat. Tidak suka membeda-bedakan atasan ataupun bawahan.

Pada umumnya upaya internalisasi kecerdasan spriritual yang dilakukan oleh suatu bangsa atau perusahaan adalah melalui penataran, khotbah, ceramah, atau pelatihan. Milyaran dana telah dikeluarkan oleh suatu bangsa atau ribuan perusahaan untuk mengupayakan perubahan sikap dan karakter bangsa atau karyawannya. Dampak paling umum dari kegiatan-kegiatan itu adalah meningkatnya rasa percaya diri peserta, setidaknya untuk sementara waktu. Setelah itu, mereka akan kembali pada kebiasaannya seperti sebelum dilakukan penataran atau pelatihan.

Jepang memiliki mekanisme yang berbeda dalam menanamkan kecerdasan spiritual kepada bangsanya. Untuk membentuk karakter dibutuhkan sebuah pembiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang, konsisten, dan berkesimbungan, yang disebut metode behaviorisme.

Mekanisme ini dinamakan Repetitive Magic Power (RMP). Mekanisme ini umumnya digunakan hampir oleh semua perusahaan atau organisasi di Jepang. Para karateka Jepang misalnya, mereka diminta berteriak, “Saya juara !”, hingga hitungan ke 100 sebelum mereka berlatih. Cara yang sama dilakukan oleh perusahaan Matsushita di seluruh dunia.

Setiap hari setelah apel pagi dan senam Taisho, seluruh karyawan Masushita akan membaca berulang-ulang kata-kata berikut: 1) Berbakti dan Memberi, 2) Jujur dan Terpercaya, 3) Adil, 4) Kerjasama atau Bersatu, 5) Berjuang atau Bersikap Teguh, 6) Ramah dan Penyayang, dan 7) Bersyukur dan Berterima Kasih.

Tradisi dan budaya Jepang yang sudah terbiasa dan turun-temurun menanamkan kecerdasan spriritual dengan metode RMP, menjadikan Jepang sebagai bangsa yang memiliki kepribadian luhur. Melalui perusahan-perusahaan Jepang yang tersebar di seluruh belahan dunia, bangsa Jepang telah berperan melakukan globalisasi budaya dengan mengubah kepribadian bangsa lain.

Simpulan dan Saran
Simpulan
Era globalisasi ekonomi, politik dan budaya memberikan tantangan sekaligus peluang bagi setiap bangsa. Setiap bangsa dapat memperoleh manfaat dari era globalisasi itu jika dapat mengelola kekuatan yang dimiliki bangsanya.

Bangsa Jepang telah menunjukkan jati dirinya sebagai bangsa yang berhasil mengelola tiga kecerdasan bangsanya, yaitu kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, sehingga jadilah bangsa Jepang yang cerdas, maju, tangguh, kaya, adil dan makmur.

Saran
Sekolah merupakan institusi sosial, selain keluarga, yang mempunyai pengaruh kuat untuk mengembangkan, menumbuhkan, dan menanamkan kecerdasan manusia.

Dalam kurikulum pendidikan di Indonesia mulai jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, kecerdasan intelektual (IQ) lebih besar porsinya, tetapi kurang diimbangi dengan pengembangan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).

Hal ini merupakan kendala utama bagi dunia pendidikan untuk mencetak manusia berkualitas yang memiliki ketiga jenis kecerdasan.

Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan seperti yang dicapai bangsa Jepang, selain kurikulum berbasis kompetensi (KBK), pendekatan pembelajaran Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk) merupakan model pembelajaran yang mulai diadopsi sekolah-sekolah di Indonesia.

Menurut teori Multiple Intelligences yang dikembangkan Gardner (2003), kecerdasan seseorang terdiri delapan unsur, yaitu Verbal-Linguistic Intelligence (mengolah kata dan bahasa), Logical-Mathematical Intelligence (mengolah angka dan logika), Spatial Intelligence (berpikir dalam gambar), Musical Intelligence (menyerap, menghargai, menciptakan irama dan melodi), Bodily-Kinesthetic Intelligence (kemampuan memecahkan masalah), Interpersonal Intelligence (hubungan sosial), Intrapersonal Intelligence (refleksi diri), dan Naturalist Intelligence
(kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan).

Multiple Intelligences yang mencakup delapan jenis kecerdasan tersebut pada dasarnya adalah sinergi dari kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).

Untuk mengembangkan proses pembelajaran dengan menggunakan Multiple Intelligences, sarana dan prasarana yang dibutuhkan sebenarnya telah tersedia di lingkungan sekitar.

Menurut Susanto (2005), penerapan Multiple Intelligences dalam proses pembelajaran dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain dengan menggunakan musik untuk mengembangkan Musical Intelligence, belajar kelompok untuk mengembangkan Interpersonal Intelligence, aktivitas seni untuk mengembangkan Spatial Intelligence, bermain peran (role play) untuk mengembangkan Bodily-Kinesthetic Intelligence, refleksi diri untuk mengembangkan Intrapersonal Intelligence, perjalanan ke lapangan (Field Trips) untuk mengembangkan Naturalist Intelligence, dan sebagainya.

Ditegaskan Gardner (2003), “Intelligence is the ability to find and solve problems and create products of value in one’s own culture” (Kecerdasan adalah kemampuan untuk menemukan dan memecahkan berbagai masalah dan menciptakan berbagai produk berharga sesuai budaya bangsa sendiri).

Dengan pola pendidikan yang menyelaraskan perkembangan IQ, EQ dan SQ diharapkan dapat menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang berilmu pengetahuan, beretika moral, berakhlak, menjunjung tinggi martabat manusia, dan berguna dalam kehidupan berbangsa.

Pustaka Acuan
Agustian, Ary Ginanjar. 2006. Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power. Cetakan Kedelapan, Januari 2006. Jakarta: Penerbit Arga.
Fatwa, A.M. 2006. Kontroversi Masalah Pendidikan dan UN. Kompas, Senin 17 Juli 2006.
Fukumoto, Kazutoshi. 1997. Why are Japanese People Diligent, Skillful and Rich ?. Cetakan Kedua, July 1997. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Gardner, Howard. 2003. Frames of mind: The theory of multiple intelligences. New York: Basic Books.
Ghozali, Abas. 2001. Sistem Pendidikan di Jepang. Jurnal Pendidikan Nasional No. 27. Jakarta: Balitbang Depdiknas.
Humaniora. 2006. Menuai Dampak Kegagalan Pendidikan Nasional. Humaniora Edisi Vol. 7/XVIII/Juni 2006.
Kedubes Jepang. 2006. Serba-serbi Karakter Jepang: Kesadaran Kelompok, Kerja Keras, Bushido, dan Senyum Jepang. http://www.id.emb-japan.gp.jp (2 September 2006).
Kompas. 2005. Restorasi Meiji ala Indonesia. Kompas, Sabtu 30 April 2005.
Prasetyawan, Wahyu. 2006. Menunggang Tradisi, Jepang Raih Modernisasi. Jaringan Islam Liberal. http://islamlib.com (15 Mei 2006)
Sucahyo, Nurhadi. 2003. Alih Pola Pikir dan Cara Hidup, Menuju Indonesia yang Lebih Inovatif. Inovasi Online, Minggu 9 Nopember 2003. PPI Jepang.
Susanto, Handy. 2005. Penerapan Multiple Intelligences dalam Sistem Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Penabur – No.04/ Th.IV/ Juli 2005.

sumber: jurnal November 2009, http://www.depdiknas.go.id/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: